• Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
adakita.news
Advertisement
  • Nasional
    • Peristiwa
    • Tentara Kita
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Budaya
    • Religi
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Teknologi
    • Travel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
adakita.news
  • Nasional
    • Peristiwa
    • Tentara Kita
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Budaya
    • Religi
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Teknologi
    • Travel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
adakita.news
No Result
View All Result
Home Pendidikan

“Biar Gak Gabut”: Esensi Sekolah dan Ketegasan Orang Tua Saat Anak Minta Bawa Gawai Pasca-Ujian

Muchamad YachyabyMuchamad Yachya
3 Juni 2026
“Biar Gak Gabut”: Esensi Sekolah dan Ketegasan Orang Tua Saat Anak Minta Bawa Gawai Pasca-Ujian

MASA-MASA setelah Ujian Akhir Sekolah (UAS) bagi siswa kelas 6 SD sering kali menjadi momen transisi yang membingungkan. Di satu sisi, beban belajar formal dan ketegangan menghadapi ujian telah usai, namun di sisi lain, regulasi sekolah tetap mewajibkan mereka untuk hadir demi memenuhi absensi dan agenda pasca-ujian.

Fenomena hari-hari “tidak ngapa-ngapain” di sekolah ini kerap memicu para siswa merengek kepada orang tua mereka agar diizinkan membawa telepon genggam (HP) ke sekolah demi mengusir rasa bosan atau yang akrab disebut sebagai gabut.

Sebuah potret dinamika keluarga modern yang sangat relevan terekam jelas dalam tangkapan layar percakapan WhatsApp antara seorang ayah dan anak perempuannya yang duduk di kelas 6 SD. Publik disuguhkan sebuah pelajaran berharga mengenai batasan screen-time, esensi sejati dari bersekolah, serta peran krusial dari sebuah ketegasan orang tua di tengah kepungan era digital.

Dalam tangkapan layar percakapan, sang anak berulang kali memohon dengan sangat (“Plizzzz”, “Please dad”) agar diperbolehkan membawa HP ke sekolah.

Alasan yang diutarakannya sangat tipikal anak-anak zaman sekarang: tidak ada pelajaran formal, guru memperbolehkan masuk tanpa membawa tas, dan ia takut akan merasa bosan sendirian karena tidak tahu harus melakukan apa.

Menariknya, sang ayah tidak memilih jalan pintas yang biasa diambil oleh mayoritas orang tua modern saat ini—yaitu memberikan kelonggaran demi kepraktisan atau sekadar rasa kasihan. Sang ayah dengan konsisten dan tegas menjawab “No” (Tidak). Ia mengingatkan prinsip dasar bahwa ruang sekolah adalah tempat untuk bersosialisasi dan beraktivitas secara fisik.

“No. Belajar sederhana. Kegiatan fisik lain tanpa hape. Sekolah ya sekolah. Bisa ngobrol, menulis, menggambar, belajar, dll.” tulis sang ayah dalam pesannya.

Tantangan bagi sang ayah tidak berhenti di situ. Sang anak kembali memberikan argumen bahwa semua teman-temannya membawa HP dan sibuk bermain game masing-masing, sehingga ia merasa terisolasi secara sosial karena tidak memiliki teman mengobrol yang bebas dari gawai.

Menanggapi keluhan tersebut, sang ayah memberikan sebuah nasihat bijak dalam bahasa Inggris yang menuntut daya imajinasi sang anak:

“You can play with your hands, your legs, your imagine, and doing anything without phone” (Kamu bisa bermain menggunakan tanganmu, kakimu, imajinasimu, dan melakukan apa saja tanpa ponsel).

Pola asuh yang ditunjukkan oleh sang ayah dalam tangkapan layar percakapan memberikan refleksi mendalam bagi para orang tua. Membiarkan anak tenggelam dalam layar gawai hanya karena “tidak ada kegiatan formal di sekolah” justru dapat mengikis kemampuan interpersonal mereka.

Menghadapi rasa bosan tanpa bantuan stimulasi digital (gawai) justru adalah cara terbaik untuk melatih kreativitas instingtif anak dalam membaca situasi sosial dan menciptakan kebahagiaannya sendiri.

Sebagai penutup dari unggahan percakapan tersebut, sang ayah menyematkan sebuah kalimat menyentuh hati berupa doa dan harapan masa depan bagi putri kecilnya:

“Semoga kelak menjadi pribadi yang tangguh dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitarmu.”

Melalui kalimat penutup ini, sang ayah menekankan bahwa menolak keinginan anak untuk membawa gawai bukanlah bentuk hukuman atau sikap kaku yang tidak menyayangi anak.

Baca Juga

Buka Pesta Pra Siaga dan Siaga Mojoroto di GOR Jayabaya, Mbak Wali Tekankan Pembentukan Karakter Anak

Tingkatkan Kapasitas Pendampingan Pola Asuh, DP3AP2KB Kediri Gelar TOT Kader Sahabat Keluarga

Kawal SPMB 2026 Tanpa Titipan dan Pungli, Pemkab Kediri Gelar Deklarasi Bersama

Sebaliknya, hal itu adalah sebuah proses penempaan agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tidak memiliki ketergantungan patologis pada teknologi, memiliki ketahanan mental yang kuat (tangguh), serta mampu membawa dampak positif yang nyata (bermanfaat) bagi lingkungan manusia di sekitarnya, bukan sekadar hidup di dalam dunia maya yang fana.(*)

Tags: Edukasi AnakFenomena PascaujianInspirasi KeluargaInteraksi Sosial AnakKetergantungan GadgetParenting IslamiPendidikan KarakterPola Asuh AnakSiswa SD

Comments 1

  1. Obung putro says:
    2 minggu ago

    Panutan ……

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending Minggu Ini

Bupati Jombang Resmikan Gedung Aimmah Ponpes El-Haq, Tegaskan Peran Strategis Pesantren Bangun Peradaban

Bupati Jombang Resmikan Gedung Aimmah Ponpes El-Haq, Tegaskan Peran Strategis Pesantren Bangun Peradaban

25 Januari 2026
DPD Partai Golkar Kabupaten Kediri Salurkan Bantuan Sosial untuk Korban Musibah di Pare dan Puncu

DPD Partai Golkar Kabupaten Kediri Salurkan Bantuan Sosial untuk Korban Musibah di Pare dan Puncu

2 Januari 2026
Imigrasi Bongkar Sindikat Love Scamming Internasional di Tangerang, 27 WNA Diamankan

Imigrasi Bongkar Sindikat Love Scamming Internasional di Tangerang, 27 WNA Diamankan

19 Januari 2026
Pemkot Kediri Perkuat Sinergi dengan Bank Indonesia, Dorong Ekonomi Tangguh dan Mandiri

Pemkot Kediri Perkuat Sinergi dengan Bank Indonesia, Dorong Ekonomi Tangguh dan Mandiri

28 Januari 2026
Isbat Nikah Massal Warnai Peringatan Hari Ibu di Kabupaten Kediri

Isbat Nikah Massal Warnai Peringatan Hari Ibu di Kabupaten Kediri

5 Desember 2025

Untuk Anda

96 Peserta Lulus Pelatda Magang Jepang, Pemkab Kediri Siapkan SDM Kelas Dunia
Nasional

96 Peserta Lulus Pelatda Magang Jepang, Pemkab Kediri Siapkan SDM Kelas Dunia

22 April 2026
Persiapkan Pilkades Serentak, Pemkab Kediri Resmi Lantik Pj Kepala Desa Jongbiru
Nasional

Persiapkan Pilkades Serentak, Pemkab Kediri Resmi Lantik Pj Kepala Desa Jongbiru

13 Februari 2026
adakita.news

PT. Adakita Aksara Media - ©2026

Informasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

No Result
View All Result
  • Nasional
    • Peristiwa
    • Tentara Kita
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Budaya
    • Religi
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Teknologi
    • Travel
  • Opini
  • Advertorial

PT. Adakita Aksara Media - ©2026