MASA-MASA setelah Ujian Akhir Sekolah (UAS) bagi siswa kelas 6 SD sering kali menjadi momen transisi yang membingungkan. Di satu sisi, beban belajar formal dan ketegangan menghadapi ujian telah usai, namun di sisi lain, regulasi sekolah tetap mewajibkan mereka untuk hadir demi memenuhi absensi dan agenda pasca-ujian.
Fenomena hari-hari “tidak ngapa-ngapain” di sekolah ini kerap memicu para siswa merengek kepada orang tua mereka agar diizinkan membawa telepon genggam (HP) ke sekolah demi mengusir rasa bosan atau yang akrab disebut sebagai gabut.
Sebuah potret dinamika keluarga modern yang sangat relevan terekam jelas dalam tangkapan layar percakapan WhatsApp antara seorang ayah dan anak perempuannya yang duduk di kelas 6 SD. Publik disuguhkan sebuah pelajaran berharga mengenai batasan screen-time, esensi sejati dari bersekolah, serta peran krusial dari sebuah ketegasan orang tua di tengah kepungan era digital.
Dalam tangkapan layar percakapan, sang anak berulang kali memohon dengan sangat (“Plizzzz”, “Please dad”) agar diperbolehkan membawa HP ke sekolah.
Alasan yang diutarakannya sangat tipikal anak-anak zaman sekarang: tidak ada pelajaran formal, guru memperbolehkan masuk tanpa membawa tas, dan ia takut akan merasa bosan sendirian karena tidak tahu harus melakukan apa.
Menariknya, sang ayah tidak memilih jalan pintas yang biasa diambil oleh mayoritas orang tua modern saat ini—yaitu memberikan kelonggaran demi kepraktisan atau sekadar rasa kasihan. Sang ayah dengan konsisten dan tegas menjawab “No” (Tidak). Ia mengingatkan prinsip dasar bahwa ruang sekolah adalah tempat untuk bersosialisasi dan beraktivitas secara fisik.
“No. Belajar sederhana. Kegiatan fisik lain tanpa hape. Sekolah ya sekolah. Bisa ngobrol, menulis, menggambar, belajar, dll.” tulis sang ayah dalam pesannya.
Tantangan bagi sang ayah tidak berhenti di situ. Sang anak kembali memberikan argumen bahwa semua teman-temannya membawa HP dan sibuk bermain game masing-masing, sehingga ia merasa terisolasi secara sosial karena tidak memiliki teman mengobrol yang bebas dari gawai.
Menanggapi keluhan tersebut, sang ayah memberikan sebuah nasihat bijak dalam bahasa Inggris yang menuntut daya imajinasi sang anak:
“You can play with your hands, your legs, your imagine, and doing anything without phone” (Kamu bisa bermain menggunakan tanganmu, kakimu, imajinasimu, dan melakukan apa saja tanpa ponsel).
Pola asuh yang ditunjukkan oleh sang ayah dalam tangkapan layar percakapan memberikan refleksi mendalam bagi para orang tua. Membiarkan anak tenggelam dalam layar gawai hanya karena “tidak ada kegiatan formal di sekolah” justru dapat mengikis kemampuan interpersonal mereka.
Menghadapi rasa bosan tanpa bantuan stimulasi digital (gawai) justru adalah cara terbaik untuk melatih kreativitas instingtif anak dalam membaca situasi sosial dan menciptakan kebahagiaannya sendiri.
Sebagai penutup dari unggahan percakapan tersebut, sang ayah menyematkan sebuah kalimat menyentuh hati berupa doa dan harapan masa depan bagi putri kecilnya:
“Semoga kelak menjadi pribadi yang tangguh dan bermanfaat bagi orang-orang di sekitarmu.”
Melalui kalimat penutup ini, sang ayah menekankan bahwa menolak keinginan anak untuk membawa gawai bukanlah bentuk hukuman atau sikap kaku yang tidak menyayangi anak.
Sebaliknya, hal itu adalah sebuah proses penempaan agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tidak memiliki ketergantungan patologis pada teknologi, memiliki ketahanan mental yang kuat (tangguh), serta mampu membawa dampak positif yang nyata (bermanfaat) bagi lingkungan manusia di sekitarnya, bukan sekadar hidup di dalam dunia maya yang fana.(*)












Panutan ……