ADAKITANEWS, Kediri – Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) terus memperkuat program Rumah Ibadah Ramah Anak (RIRA). Langkah ini diambil untuk mendukung tumbuh kembang spiritual dan sosial anak sekaligus memenuhi indikator penilaian Kota Layak Anak (KLA).
Kepala DP3AP2KB Kota Kediri dr. Moh. Fajri Mubasysyir menyatakan bahwa pihaknya menggelar kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) ke sejumlah rumah ibadah di Kota Kediri, Kamis (23/7/2026). Peninjauan tersebut bertujuan memastikan rumah ibadah telah memenuhi standar kelayakan sebagai ruang yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak.
Pada pelaksanaan monev kali ini, tim mendatangi Masjid Al Kholid di Kelurahan Semampir serta Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Kediri. Kedua tempat ibadah tersebut dinilai telah memenuhi kriteria awal untuk dievaluasi berdasarkan indikator RIRA.
“Hari ini kami melakukan evaluasi terhadap rumah ibadah di Kota Kediri. Salah satu indikator penilaian Kota Layak Anak adalah adanya rumah ibadah yang ramah anak. Karena itu kami melihat kelengkapan fasilitas, kondisi bangunan, serta program-program yang mampu mendidik dan mengembangkan potensi anak,” kata dr. Fajri.
Ia memaparkan bahwa aspek penilaian mencakup keamanan fisik bangunan, seperti kelayakan tangga dan fasilitas penunjang, hingga ketersediaan ruang bermain, ruang baca, ruang konseling, serta area kreativitas untuk menyalurkan bakat minat anak.
“Hasil monitoring ini akan kami evaluasi. Apabila masih terdapat indikator yang belum terpenuhi, akan kami sampaikan kepada pengelola rumah ibadah sebagai bahan perbaikan. Harapan kami, ke depan seluruh rumah ibadah di Kota Kediri dapat menjadi rumah ibadah yang ramah anak,” kata dr. Fajri.
Pada kesempatan terpisah, Ketua Gereja Ramah Anak (GRA) GKJW Jemaat Kediri Johana Dyah Susanti menerangkan bahwa konsep gereja ramah anak mengedepankan sikap terbuka serta penerimaan terhadap seluruh anak dengan berbagai latar belakang dan kebutuhan.
“Gereja ramah anak bukan hanya membentuk anak menjadi pribadi yang humanis dan mampu bersosialisasi, tetapi juga menumbuhkan pengenalan mereka kepada Tuhan sesuai dengan kondisi yang mereka miliki,” kata Johana.
Johana menambahkan, GKJW Jemaat Kediri telah menggulirkan beragam program pendukung, seperti latihan seni musik dan vokal, pemeriksaan kesehatan rutin bulanan, pelatihan daur ulang sampah, merajut, olahraga bersama, hingga pembekalan pengasuhan bagi orang tua.
Fasilitas penunjang seperti alat musik, area bermain, sarana olahraga, dan perpustakaan anak juga telah disediakan. Selain itu, anak-anak dan remaja dilatih berwirausaha melalui bazar mingguan dengan menjual produk makanan dan minuman selepas ibadah.
Dari hasil evaluasi lapangan, masih ada aspek yang perlu ditingkatkan, salah satunya penghijauan lingkungan gereja. Ke depan, GKJW Jemaat Kediri berencana membentuk Forum Anak di tingkat gereja yang terkoneksi dengan Forum Anak Kota Kediri guna memperluas jejaring, memupuk toleransi, dan mempererat interaksi sosial antaranak.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya bertumbuh di lingkungan gereja, tetapi juga mengenal lingkungannya, memiliki kepedulian sosial, serta menjadi warga Kota Kediri yang baik. Anak-anak perlu terus didukung perkembangan pedagogik, sosial, spiritual, dan kemanusiaannya sebagai bekal masa depan,” kata Johana.(*)











