ADAKITANEWS, Kediri – Suasana hangat dan santai mewarnai gelaran sosialisasi bertajuk “Peningkatan Daya Saing UMKM melalui Pemahaman Regulasi dan Pemanfaatan Digitalisasi” yang berlangsung di salah satu hotel di Kediri, Sabtu (29/8/2026).
Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur sekaligus Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Kediri, M Hadi Setiawan, memilih turun langsung untuk berdialog dan menyerap usulan dari sekitar 125 warga perwakilan berbagai kecamatan di Kabupaten Kediri.
Dalam agenda bertema “UMKM Naik Kelas: Memahami Regulasi dan Mengoptimalkan Digitalisasi Usaha” tersebut, pria yang akrab disapa Cak Hadi ini menunjukkan pendekatan unik. Ia yang semula berada di kursi narasumber, mendadak mengambil kursi biasa, membalikkannya, lalu duduk santai menghadap para peserta.
Dari posisi yang sejajar itu, Cak Hadi membuka ruang diskusi dua arah agar para wirausahawan dapat memaparkan kondisi riil serta dinamika usaha mereka secara leluasa.
“Kita tidak ingin sosialisasi ini hanya satu arah. Saya ingin mendengar langsung apa yang menjadi kebutuhan dan kendala masyarakat dalam mengembangkan usahanya,” kata Cak Hadi, Sabtu (29/8/2026).
Berbagai aspirasi yang masuk selanjutnya akan diselaraskan dengan deretan program stimulan yang ada, baik dari tingkat pusat, provinsi, maupun daerah. Alokasi bantuannya, direncanakan menyasar sektor program KPM JAWARA, dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga program bantuan kelompok usaha.
Meski demikian, Cak Hadi menggarisbawahi pentingnya prinsip kedisiplinan dan komitmen dari para calon penerima bantuan.
“Bantuan ini harus tepat sasaran. Kita ingin membantu pelaku UMKM yang memang punya kemauan untuk mengembangkan usaha, sehingga bantuan yang diberikan bisa benar-benar bermanfaat,” ujar Cak Hadi.
Salah satu aspirasi datang dari Susari, warga Desa Tugu, Kecamatan Purwoasri. Pengecer telur lokal yang biasa menyalurkan 15 hingga 20 kilogram telur per hari ini mengaku kerap terkendala keterbatasan stok barang dagangan, meski potensi pasarnya masih cukup terbuka.
Mendengar kendala tersebut, Cak Hadi menguji kesiapan serta menghitung kalkulasi kebutuhan modal Susari untuk memfasilitasi eskalasi usahanya naik tingkat menjadi agen.
“Kalau ada kesempatan untuk berkembang dari pengecer menjadi agen, apakah Pak Susari siap? Kemudian, berapa modal yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha ini?” tanya Cak Hadi.
Mendapati kesiapan sang wirausahawan, Cak Hadi memastikan akan mendorong usulan pengembangan usaha tersebut masuk ke dalam skema penyaluran KPM JAWARA.
“Kita coba usulkan melalui KPM JAWARA. Harapannya, nanti usaha ini bisa berkembang, stoknya bertambah, dan kebutuhan konsumen juga bisa terpenuhi dengan lebih baik,” katanya.
Di samping fasilitasi program bantuan KPM JAWARA, Cak Hadi juga menawarkan opsi pembiayaan bagi wirausahawan yang memerlukan penguatan modal kerja melalui BPR Jatim. Skema ini menyediakan plafon pinjaman hingga Rp50 juta dengan tingkat suku bunga yang sangat rendah, yakni 3 persen per tahun.
“Bagi yang usahanya sudah berjalan dan membutuhkan tambahan modal, ada juga alternatif pembiayaan melalui BPR Jatim. Kita arahkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi usahanya,” kata Cak Hadi.
Sepanjang sesi diskusi, sedikitnya 10 poin usulan berhasil diinventarisasi untuk diperjuangkan lewat program KPM JAWARA. Sementara deretan usulan lainnya akan disalurkan melalui mekanisme bantuan yang relevan dengan jenis usaha masing-masing.
“Kita tampung semua usulan yang disampaikan. Nanti kita lihat program mana yang paling sesuai, sehingga bantuan yang diberikan benar-benar bisa menjawab kebutuhan para pelaku UMKM,” ujar Cak Hadi.(*)











