ADAKITANEWS, Jember – Sekjen Partai Golkar M. Sarmuji membedah karya tulis terbarunya berjudul Kekuasaan yang Menolong di Jember, Sabtu (9/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang diskusi kritis mengenai peran kekuasaan dalam menyejahterakan rakyat di tengah meningkatnya skeptisisme publik terhadap dunia politik.
Dalam pemaparannya, Sarmuji menegaskan buku tersebut bukan sekadar teori politik, melainkan kumpulan catatan reflektif atas situasi kebangsaan yang ia temui selama menjalani aktivitas politik.
Menurutnya, keterlibatannya di dunia politik berangkat dari nilai-nilai spiritual yang terinspirasi dari Al-Quran, khususnya Surah Al-Isra ayat 80.
“Saya masuk ke dunia politik sebenarnya sangat terinspirasi tulisan dalam Al-Quran surah Al-Isra ayat 80, ada ayat dalam Al-Quran, Rabbi adkhilni mudkhala sidqin wa akhrijni mukhraja sidqin waj’al li mil ladunka sulthanan nashira,” ujar Sarmuji yang juga merupakan Ketua Umum PP KAUJE (Keluarga Alumni Universitas Jember) tersebut.
Ia memaknai ayat tersebut sebagai doa agar diberikan kekuasaan yang mampu menolong masyarakat.
Bagi Sarmuji, jabatan politik bukan sekadar simbol kekuasaan, melainkan amanah besar yang dapat menjadi kehormatan ataupun sebaliknya menjadi kehancuran jika disalahgunakan.
“Jangan-jangan ketika kita naik sedemikian tinggi, bukan malah meninggikan derajat tetapi justru meninggikan tempat jatuh,” imbuhnya.
Keseriusan terhadap filosofi tersebut bahkan diwujudkan dengan memberikan nama putranya Muhammad Sutojoyo Sulthana Nashir.
Dalam diskusi tersebut, Ketua MUI Jawa Timur Abd. Halim menilai buku karya Sarmuji memiliki nuansa spiritualitas yang kuat meski ditulis oleh seorang politisi.
“Dari depan itu sampai belakang itu spiritualitasnya itu sangat nampak, meskipun itu berangkat dari hal-hal yang tematik,” ujar Prof. Halim.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran politisi dalam mengawal kebijakan publik yang menyentuh kesejahteraan masyarakat, termasuk bidang pendidikan dan ekonomi umat.
Sementara itu, Guru Besar FEB Unej Zainuri menyoroti pentingnya membangun institusi yang inklusif dan bebas dari praktik rente politik.
“Cak Sar di situ mengingatkan, demokrasi seharusnya menjadi ajang amanah, bukan ajang mencari kekuasaan,” jelasnya.
Pandangan kritis juga disampaikan Ketua PWI Jawa Timur Lutfil Hakim yang menilai masyarakat saat ini membutuhkan keberanian dalam mengeksekusi kebijakan nyata di lapangan.
“Yang diharapkan lebih dari itu adalah keberanian melakukan eksekusi kebijakan yang menjadikan kekuasaan itu pro atau kekuasaan itu betul-betul menolong,” tegas Lutfil.
Menutup diskusi, Sarmuji berharap kiprahnya di dunia politik dapat meninggalkan jejak manfaat bagi masyarakat dan generasi mendatang.
“Mudah-mudahan nanti saya dikenang dulu ada anggota DPR yang mempunyai manfaat baik,” ujarnya.
Ia juga mengutip doa Nabi Ibrahim sebagai harapan agar perjalanan hidupnya menjadi buah tutur yang baik di masa depan.
“Waj’al li lisana sidqin fil akhirin. Ya Allah, jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi generasi yang akan datang,” pungkasnya.(*)











