ADAKITANEWS, Lumajang – Upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Lumajang terus menunjukkan tren positif. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Lumajang, jumlah penduduk miskin di wilayah ini berkurang sebanyak 2.780 orang dalam kurun satu tahun, yakni dari 90,64 ribu orang (Maret 2025) menjadi 87,86 ribu orang pada Maret 2026.
Secara persentase, angka kemiskinan berhasil ditekan dari 8,60 persen turun menjadi 8,33 persen. Dalam rentang satu dekade (2016–2026), persentase warga miskin di Lumajang bahkan menyusut hingga 2,89 poin persentase dari yang semula 11,22 persen (115,91 ribu orang).
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, menyambut baik capaian ini sekaligus menjadikannya sebagai pemantik semangat bagi jajaran pemerintah daerah untuk memperluas manfaat pembangunan.
“Penurunan angka kemiskinan ini menjadi kabar baik bagi Lumajang. Ke depan, kami terus berupaya agar pembangunan dan pelayanan pemerintah semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama warga yang masih membutuhkan dukungan,” ujar sosok yang akrab disapa Bunda Indah tersebut, Selasa (20/10/2026).
Guna memastikan kelompok rentan dan masyarakat di pelosok mendapatkan hak dasar seperti kesehatan, pendidikan, hingga legalitas usaha, Pemkab Lumajang terus menggencarkan inovasi penjemputan bola. Salah satu program unggulannya adalah Sehari Ngantor di Kecamatan Terpadu (SETORMADU).
Wakil Bupati Lumajang, Yudha Adji Kusuma (Mas Yudha), menekankan bahwa pelayanan yang dekat dengan masyarakat menjadi kunci agar aspirasi serta kebutuhan riil warga dapat terakomodasi secara presisi.
“Melalui pelayanan yang semakin dekat dengan masyarakat, kami ingin memastikan kebutuhan warga dapat didengar dan ditindaklanjuti. Kolaborasi dan pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan bersama,” terang Mas Yudha.
Sektor ekonomi Lumajang sendiri tercatat tumbuh pesat sebesar 5,35 persen pada 2025, melompat dari angka 4,52 persen pada 2024. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung utama dengan menyumbang 31,98 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Di sisi lain, BPS mencatat batas Garis Kemiskinan pada Maret 2026 berada di angka Rp458.716 per kapita per bulan, mengalami kenaikan 9,18 persen dibanding tahun lalu. Meski demikian, Indeks Kedalaman Kemiskinan berhasil membaik dari 0,68 menjadi 0,62, sementara Indeks Keparahan Kemiskinan bertahan stabil di angka 0,08.
Capaian positif ini menjadi pijakan penting bagi Pemkab Lumajang untuk tidak sekadar mengejar angka statistik, tetapi juga memastikan pemerataan kesempatan ekonomi hingga ke lapisan masyarakat paling bawah.











