ADAKITANEWS, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri manufaktur nasional guna mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029 sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menilai sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT) memiliki peran strategis dalam meningkatkan nilai tambah, ekspor, investasi, serta penyerapan tenaga kerja.
Guna mencapai sasaran tersebut, Produk Domestik Bruto (PDB) nasional diproyeksikan meningkat Rp7.674 triliun sepanjang periode 2026 hingga 2029. PDB ditargetkan naik dari Rp23.312 triliun pada 2025 menjadi Rp30.986 triliun pada 2029.
Sementara itu, sektor IKFT dipatok tumbuh 7,85 persen pada 2029 dengan proyeksi kontribusi terhadap PDB nasional mencapai 4,35 persen serta sumbangan terhadap ekspor sebesar 18,66 persen. Sejumlah subsektor IKFT pun telah mencatatkan kinerja positif. Pada triwulan II 2026, industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,36 persen, sedangkan industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki melesat 11,30 persen.
Kinerja ekspor sektor IKFT periode Januari hingga Juli 2026 tercatat menembus USD34,2 miliar, melampaui nilai impor yang berada di angka USD32,75 miliar. Sarmuji menegaskan pentingnya penguatan industri padat karya seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), kulit, serta alas kaki yang menjadi prioritas jangka panjang. Khusus untuk industri TPT, jumlah tenaga kerja ditargetkan bertambah dari 3,95 juta orang pada 2026 menjadi 4,07 juta orang pada 2029.
Sebagai langkah dukungan, Kemenperin mengoptimalkan program restrukturisasi mesin dan peralatan industri TPT, Kredit Industri Padat Karya (KIPK), perluasan akses pembiayaan, serta proteksi pasar domestik. Kebijakan ini sekaligus merespons tantangan berat di lapangan, termasuk gempuran produk impor, beban biaya produksi, serta kondisi mesin industri TPT yang mayoritas sudah beroperasi lebih dari 20 tahun.
“Permasalahan mesin-mesin industri tekstil yang sudah tua harus segera ditangani. Tanpa modernisasi, industri kita akan semakin sulit bertahan dan bersaing dengan negara lain, khususnya Tiongkok, yang telah menggunakan teknologi produksi lebih maju,” ujarnya.
Direktur Jenderal IKFT Kemenperin Taufiek Bawazier menambahkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan kompetitif pada sektor industri serat rayon yang berpotensi menjadi salah satu motor penggerak utama kekuatan tekstil nasional. Di samping itu, Kemenperin berupaya mengoptimalkan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) guna menjaga efisiensi biaya serta daya saing pabrikan. Evaluasi 2026 menunjukkan sebagian industri baru memperoleh sekitar 60 hingga 70 persen dari alokasi gas yang ditetapkan, sehingga jaminan volume dan kepastian pasokan terus didorong.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza turut menggarisbawahi urgensi perumusan strategi terukur hingga 2029, utamanya terkait pemenuhan bahan baku dan energi.
“Perlu dirumuskan secara konkret langkah dan target hingga tahun 2029, termasuk berapa persen kebutuhan bahan baku yang harus dapat dipenuhi oleh perusahaan maupun dari pasokan dalam negeri. Dengan demikian, kebijakan HGBT dan penguatan bahan baku dapat memberikan dampak nyata terhadap produktivitas dan daya saing industri,” tuturnya.
Sementara itu, pada bidang farmasi, Kemenperin fokus memperkuat industri obat tradisional dan obat bahan alam (OBA) lewat pemanfaatan bahan baku lokal, standardisasi, serta peningkatan riset. Langkah ini diharapkan mampu mendongkrak nilai tambah sekaligus memangkas ketergantungan impor bahan baku obat herbal dan fitofarmaka.(*)











