ADAKITANEWS, Kediri – Masyarakat di wilayah Jawa Timur dan sebagian besar Pulau Jawa diimbau untuk bersiap menghadapi musim kemarau yang masih akan berlangsung hingga satu bulan ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan bahwa awal musim hujan di wilayah tersebut baru akan dimulai pada akhir tahun, tepatnya Desember 2026.
Pundurnya awal musim hujan ini bukan hanya terjadi di Jawa. BMKG mencatat sebanyak 61,8% wilayah di Indonesia diperkirakan mengalami masa transisi musim hujan yang lebih lambat atau mundur jika dibandingkan dengan kondisi klimatologis normalnya.
BMKG merinci tahapan masuknya musim hujan secara bertahap di seluruh wilayah nusantara mulai Oktober hingga Desember 2026 sebagai berikut:
Pada Oktober 2026, musim hujan mulai menyapa wilayah utara dan barat Indonesia, meliputi Aceh Besar bagian utara, sebagian Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, serta sebagian wilayah Kalimantan, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua.
Lalu November 2026, hujan mulai meluas ke sebagian wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagian kecil Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, hingga Maluku dan Papua Selatan.
Selanjutnya Desember 2026, musim hujan resmi merata di wilayah sebagian besar Pulau Jawa (termasuk Jawa Timur), Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan Lampung.
Dari sisi intensitas, mayoritas wilayah Indonesia (69,76%) diprediksi mengalami akumulasi curah hujan musiman pada kategori normal. Meski demikian, BMKG mengingatkan adanya ancaman cuaca ekstrem, di mana 18,55% wilayah berpotensi mengalami curah hujan di atas normal (lebih basah), dan 11,69% wilayah berada di kategori bawah normal (lebih kering).
Puncak musim hujan periode 2026–2027 terbagi dalam tiga gelombang utama, yakni Desember 2026 terjadi di 36,94% wilayah Indonesia. Januari 2027 terjadi di 25,68% wilayah. Februari 2027 terjadi di 16,79% wilayah.
Selain datang lebih lambat, durasi musim hujan kali ini juga diperkirakan berlangsung lebih singkat dari biasanya di 51,9% wilayah Indonesia. BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengoptimalkan penyesuaian aktivitas serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Masyarakat dapat terus memantau pembaruan peringatan dini dan informasi iklim terkini melalui kanal resmi BMKG.











