ADAKITANEWS, Kediri – Wakil Wali Kota Kediri Qowimuddin Thoha menjadi pemateri dalam agenda Intermediate Training (LK II) Training Raya Tingkat Nasional Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kediri Tahun 2026 di Villa Kasih St. Yohannes pada Selasa (4/8/2026). Kegiatan ini diikuti oleh 32 kader HMI dari pelbagai kawasan di Indonesia.
Dalam forum ilmiah tersebut, Qowimuddin memaparkan materi bertajuk “Sejarah dan Implikasi Konflik Timur Tengah terhadap Kondisi Umat Islam Global dan Ketahanan Pangan Nasional”.
Sosok yang akrab disapa Gus Qowim ini mengajak para insan akademis untuk menaruh perhatian terhadap eskalasi di kawasan Timur Tengah. Ia menekankan bahwa kendati wilayah Indonesia terpisah jarak yang jauh, gejolak geopolitik tersebut tetap memberikan efek domino hingga ke tingkat lokal seperti Kota Kediri.
Ia menerangkan bahwa memanasnya situasi di sana memicu kenaikan harga komoditas vital seperti minyak, pupuk, hingga bahan pangan pokok. Realitas ini menegaskan keterhubungan antarbangsa yang membuat dinamika global berdampak langsung pada kondisi perekonomian masyarakat domestik.
“Kita memang berada ribuan kilometer dari Timur Tengah, tetapi dampaknya bisa kita rasakan sampai di Kota Kediri. Mahasiswa harus memahami bahwa politik, ekonomi, kemanusiaan, dan hubungan antarnegara tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Gus Qowim memaparkan bahwa eskalasi di Timur Tengah kian rumit. Persoalan yang mulanya berfokus pada dinamika Israel dan Palestina kini makin meluas dengan keterlibatan Amerika Serikat beserta kekuatan global lainnya seperti Rusia, China, hingga negara-negara Eropa, sehingga jalan keluar diplomatik makin sulit dicapai.
Ia menilai pemicu pertikaian tidak sekadar perebutan wilayah, melainkan berkelindan dengan faktor historis, sentimen keagamaan, kalkulasi politik, hingga persaingan penguasaan sumber daya energi.
“Kalau semua pihak masih mempertahankan kepentingannya masing-masing dan tidak ada yang benar-benar mau mengalah, konflik ini akan sulit diselesaikan. Persoalannya sudah berlangsung sangat panjang,” jelasnya.
Lebih lanjut, Gus Qowim membeberkan konsekuensi luas yang ditanggung masyarakat internasional dan umat Islam global, mulai dari krisis kemanusiaan di Palestina, gelombang pengungsi, meluasnya arena pertempuran ke Lebanon, tekanan ekonomi, polarisasi politik, hingga terhambatnya akses pendidikan.
Di sisi lain, Indonesia turut menanggung konsekuensi ekonomi akibat disrupsi di kawasan produsen energi utama dunia tersebut. Hambatan jalur distribusi energi berisiko melambungkan harga BBM yang berimbas pada lonjakan biaya logistik, ongkos produksi, dan harga barang pokok. Menanggapi ancaman ini, Pemkot Kediri melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memantau pergerakan pasar demi menjaga kestabilan inflasi daerah.
Dalam membentengi ketahanan pangan nasional, Gus Qowim mendorong akselerasi program diversifikasi pangan, hilirisasi sektor pertanian, serta penguatan urban farming. Masyarakat diimbau tidak bertumpu pada satu jenis bahan pokok dengan memaksimalkan potensi pangan lokal.
“Kita tidak boleh hanya bergantung pada satu komoditas. Diversifikasi pangan, hilirisasi pertanian, dan urban farming harus terus kita dorong agar masyarakat semakin mandiri memenuhi kebutuhan pangannya,” ucapnya.
Menutup paparannya, Gus Qowim mengingatkan para kader HMI sebagai elemen intelektual untuk terus menempa diri dengan penguasaan ilmu, kepribadian berakhlak mulia, serta nalar kritis dalam merespons tantangan zaman.
Ia berpesan agar kader HMI aktif mengambil peran sebagai agent of change, problem solver, serta social control yang sanggup menawarkan gagasan solutif, merawat persatuan, dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Perubahan besar dimulai dari mereka yang mampu membaca zaman, memahami persoalan, lalu bergerak menghadirkan solusi,” pungkasnya.(*)











