ADAKITANEWS, Kediri – Upaya pengendalian penyakit tidak menular di Kota Kediri terus diperkuat melalui Workshop Penguatan Kader Kesehatan dalam Deteksi Dini Diabetes Mellitus yang digelar pada Selasa (28/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Kediri ini diikuti oleh 200 kader kesehatan yang dipersiapkan sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan di tingkat masyarakat.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, dr. Hamida, menegaskan bahwa kader kesehatan memiliki peran strategis dalam pelaksanaan skrining penyakit secara masif di lingkup akar rumput.
“Kami juga terus berupaya meningkatkan kapasitas kader melalui berbagai pelatihan dan workshop, tidak hanya terkait diabetes mellitus tetapi juga berbagai penyakit lainnya. Hal ini dilakukan agar kader memiliki kompetensi yang memadai di berbagai bidang kesehatan,” terangnya.
Menurut dr. Hamida, keterlibatan kader yang bersentuhan langsung dengan warga akan memperkuat efektivitas deteksi dini, edukasi pencegahan, hingga pengelolaan penyakit. Kolaborasi antara kader, Dinas Kesehatan, dan fasilitas pelayanan seperti puskesmas menjadi kunci utama keberhasilan program pemantauan kesehatan masyarakat ini.
Dalam mekanisme teknisnya, hasil deteksi dini yang dilakukan oleh para kader akan dilaporkan ke puskesmas setempat untuk kemudian diinput melalui aplikasi ASIK (Aplikasi Sehat Indonesiaku). Langkah ini merupakan bagian dari sistem pemantauan kesehatan nasional yang terintegrasi secara digital.
Lebih lanjut, dr. Hamida mengimbau masyarakat untuk secara sadar menerapkan pola hidup sehat melalui pendekatan promotif dan preventif. Salah satunya adalah dengan konsisten menerapkan pola hidup CERDIK, yakni rutin cek kesehatan, menghindari asap rokok, aktif bergerak, menjaga pola makan seimbang, cukup istirahat, serta mengelola stres dengan baik.
Workshop ini menghadirkan narasumber dr. Agus Sulistiawan yang memberikan materi mengenai pengenalan gejala awal diabetes melalui tanda 3P: poliuri (sering buang air kecil), polidipsi (sering haus), dan polifagi (sering lapar). Ia menekankan bahwa gejala-gejala tersebut harus segera dikonfirmasi melalui pemeriksaan kadar gula darah yang akurat.
Selain itu, narasumber Moh. Rizqi Lazuardi Ramadhan memberikan wawasan mengenai penggunaan obat herbal. Ia mengingatkan masyarakat agar bijak dalam mengonsumsi herbal karena tetap memiliki potensi efek samping jika tidak digunakan sesuai aturan.
“Terapi herbal bersifat komplementer dan tidak menggantikan obat yang diresepkan oleh dokter,” jelas Rizqi.
Melalui penguatan kapasitas ini, Pemerintah Kota Kediri berharap para kader kesehatan semakin kompeten dalam melakukan deteksi dini sekaligus mampu memberikan edukasi yang tepat mengenai manajemen diabetes, termasuk penggunaan terapi pendukung secara benar di tengah masyarakat.(*)











