• Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
adakita.news
Advertisement
  • Nasional
    • Peristiwa
    • Tentara Kita
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Budaya
    • Religi
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Teknologi
    • Travel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
adakita.news
  • Nasional
    • Peristiwa
    • Tentara Kita
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Budaya
    • Religi
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Teknologi
    • Travel
  • Opini
  • Advertorial
No Result
View All Result
adakita.news
No Result
View All Result
Home Nasional

Memutus Sunyi di Kampung Onggoboyo: Asa Warga di Atas Tanah Pinjaman Kaki Gunung Kelud

Rochmatullah KurniawanbyRochmatullah Kurniawan
11 April 2026
Memutus Sunyi di Kampung Onggoboyo: Asa Warga di Atas Tanah Pinjaman Kaki Gunung Kelud

Baca Juga

Buka Pesta Pra Siaga dan Siaga Mojoroto di GOR Jayabaya, Mbak Wali Tekankan Pembentukan Karakter Anak

Jalur Domisili SPMB SMA Jatim Mulai Dibuka, Orang Tua di Kediri Intensif Pantau Perubahan Peringkat Anak

Rilis Kinerja Maret 2026, Kepala OJK Kediri Ismirani Saputri Ungkap Aset Perbankan Tembus Rp116 Triliun

ADAKITANEWS, Kediri – Di balik rimbunnya hamparan perkebunan tebu di kaki Gunung Kelud, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi warga Kampung Onggoboyo. Dusun yang kini secara administratif masuk dalam wilayah Desa Babadan, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri ini, menyimpan sisa-sisa memori kolonial yang berkelindan dengan perjuangan hidup manusia modern.

Kampung ini bukan permukiman biasa. Bangunan-bangunan bergaya Indis dengan tembok tebal khas Belanda masih berdiri kokoh di sana. Dahulu, ada sekitar 20 rumah yang selalu penuh sesak oleh para pekerja perkebunan PTPN X. Kini, hanya tersisa 11 rumah dan dihuni 14 kepala keluarga yang masih bertahan di tengah kepungan kebun.

Kepala Desa Babadan, Arif Priyo Wiyoko, mengisahkan bahwa penghuni Onggoboyo saat ini adalah potret regenerasi. Bukan lagi hanya pekerja aktif, namun sudah turun-temurun hingga anak cucu yang sebagian kini melakoni profesi di luar perkebunan.

“Status tanah dan bangunan tetap milik PTPN. Warga boleh menempati, tapi dengan catatan ketat tidak boleh mengubah struktur bangunan apalagi menjualnya,” ujar Arif saat ditemui pada Jumat (10/4/2026).

Perjalanan Kampung Onggoboyo menuju “kemerdekaan” fasilitas dasar tergolong sangat panjang. Sebelum listrik token masuk sekitar satu-dua tahun lalu, warga harus bergantung pada aki. Mereka sempat memiliki panel surya, namun rusak dimakan usia. Penggunaan genset pun pernah dicoba, meski akhirnya menyerah karena tingginya biaya BBM.

Menariknya, aliran listrik yang ada sekarang bukan hasil proyek instansi pemerintah, melainkan inisiasi pribadi seorang dermawan yang peduli. Kabel ditanam sejauh satu kilometer dari kampung terdekat untuk menyalurkan setitik cahaya ke Onggoboyo. Itupun hanya satu meteran untuk seluruh rumah yang ada.

Pemerintah melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) baru-baru ini mulai menyentuh kampung ini dengan bantuan rehabilitasi atap dan penyaluran air bersih (PAM) langsung ke rumah warga.

“Setidaknya sekarang air sudah lancar. Dulu, warga bahkan harus membeli air karena bantuan dari perkebunan tidak mencukupi,” kenang Panji, salah satu penghuni yang sudah 25 tahun menetap di sana.

Meski atap tak lagi bocor dan air mengalir, persoalan aksesibilitas tetap menjadi momok. Jalan masuk sepanjang satu kilometer menuju Onggoboyo adalah jalan setapak milik PTPN yang belum tersentuh aspal. Saat hujan turun, jalur tersebut berubah menjadi medan yang licin dan berbahaya.

Kondisi ini menyisakan trauma tersendiri bagi para ibu seperti Winarti. Saat senja tiba, ia kerap didera kecemasan jika anaknya belum pulang sekolah saat hujan mengguyur. Minimnya penerangan jalan membuat perjalanan satu kilometer tersebut terasa sangat jauh dan mencekam.

“Kami hanya ingin kampung kami terang. Listrik memang sudah ada di dalam rumah, tapi infrastruktur jalannya masih gelap gulita,” keluh Winarti beberapa waktu lalu.

Kepala Desa Babadan, Arif Priyo Wiyoko, mengaku bukannya tanpa upaya. Ia bahkan mengaku sempat bertolak ke Surabaya untuk beraudiensi langsung dengan pihak PTPN, namun langkahnya terganjal jalan buntu lantaran gagal menemui pihak yang berkompeten memberikan kebijakan.

Pihak desa berada dalam posisi dilematis. Secara kewilayahan, Onggoboyo adalah bagian dari Desa Babadan, namun secara aset, jalan hingga bangunan adalah wewenang penuh perusahaan. Desa hanya bisa masuk melalui bantuan sosial seperti pangan dan kesejahteraan warga.

“Solusi yang saya tawarkan sebenarnya adalah memindahkan warga ke titik yang lebih dekat dengan jalan raya, tetap di kawasan PTPN. Tujuannya agar akses lebih mudah dan mereka punya rumah tinggal yang layak,” jelas Arif.

Arif optimistis jika usulan relokasi ini disetujui, pihak desa siap memberikan dukungan penuh dalam pembangunan fisik, termasuk menjalin kolaborasi dengan Pemkab Kediri maupun Pemprov Jatim. Namun, ia mengakui kendala utama ada pada kebijakan perusahaan yang masih kaku.

“Ada pendapat yang bilang tidak bisa, tapi ada juga yang berargumen bisa, karena tanah PTPN adalah tanah negara yang peruntukannya bisa untuk masyarakat. Saya hanya berharap ada solusi konkret demi kemanusiaan,” pungkasnya.(*)

Tags: Arif Priyo WiyokoBerita KediriDesa BabadanHGUInfrastrukturKabupaten KediriKampung OnggoboyoKediriNgancarPerkebunanPTPN XSejarahSosial

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Trending Minggu Ini

Bupati Jombang Resmikan Gedung Aimmah Ponpes El-Haq, Tegaskan Peran Strategis Pesantren Bangun Peradaban

Bupati Jombang Resmikan Gedung Aimmah Ponpes El-Haq, Tegaskan Peran Strategis Pesantren Bangun Peradaban

25 Januari 2026
DPD Partai Golkar Kabupaten Kediri Salurkan Bantuan Sosial untuk Korban Musibah di Pare dan Puncu

DPD Partai Golkar Kabupaten Kediri Salurkan Bantuan Sosial untuk Korban Musibah di Pare dan Puncu

2 Januari 2026
Imigrasi Bongkar Sindikat Love Scamming Internasional di Tangerang, 27 WNA Diamankan

Imigrasi Bongkar Sindikat Love Scamming Internasional di Tangerang, 27 WNA Diamankan

19 Januari 2026
Pemkot Kediri Perkuat Sinergi dengan Bank Indonesia, Dorong Ekonomi Tangguh dan Mandiri

Pemkot Kediri Perkuat Sinergi dengan Bank Indonesia, Dorong Ekonomi Tangguh dan Mandiri

28 Januari 2026
Isbat Nikah Massal Warnai Peringatan Hari Ibu di Kabupaten Kediri

Isbat Nikah Massal Warnai Peringatan Hari Ibu di Kabupaten Kediri

5 Desember 2025

Untuk Anda

Momentum Harkitnas, KAI Daop 7 Madiun Gandeng Generasi Muda Kampanyekan Keselamatan di Perlintasan Kediri
Nasional

Momentum Harkitnas, KAI Daop 7 Madiun Gandeng Generasi Muda Kampanyekan Keselamatan di Perlintasan Kediri

20 Mei 2026
Sisi Humanis TMMD ke-127 di Kediri: Kedekatan Tanpa Sekat Prajurit TNI dan Anak-Anak Desa Gadungan
Nasional

Sisi Humanis TMMD ke-127 di Kediri: Kedekatan Tanpa Sekat Prajurit TNI dan Anak-Anak Desa Gadungan

17 Februari 2026
adakita.news

PT. Adakita Aksara Media - ©2026

Informasi

  • Tentang Kami
  • Susunan Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber

Follow Us

No Result
View All Result
  • Nasional
    • Peristiwa
    • Tentara Kita
  • Politik
    • Pemerintahan
  • Hukum & Kriminal
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Budaya
    • Religi
  • Pendidikan
  • Gaya Hidup
    • Hiburan
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Teknologi
    • Travel
  • Opini
  • Advertorial

PT. Adakita Aksara Media - ©2026