ADAKITANEWS, Kediri – Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Kesehatan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penanganan Kesehatan Jiwa pada Kelompok Berisiko pada Kamis (15/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Kediri ini diikuti sekitar 46 kader kesehatan jiwa serta pemegang program kesehatan jiwa dari puskesmas se-Kota Kediri.
Bimtek tersebut dilaksanakan untuk menyegarkan pengetahuan dan meningkatkan kemampuan kader dalam mendeteksi serta menangani persoalan kesehatan jiwa, khususnya pada kelompok berisiko seperti lansia, remaja, ibu hamil, penyintas kekerasan atau bencana, penderita penyakit kronis, disabilitas, hingga individu yang menghadapi tekanan ekonomi dan sosial.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri, dr. Rini Hidayat, menyampaikan bahwa agenda ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia setiap 10 Oktober sekaligus memperkuat komitmen peningkatan layanan kesehatan jiwa di masyarakat. Ia menegaskan pentingnya peran kader sebagai garda terdepan di lapangan.
“Kader kesehatan jiwa memiliki peran strategis sebagai mata, telinga, sekaligus tangan dalam upaya menjaga kesehatan jiwa masyarakat. Sebagai mata dan telinga, kader diharapkan mampu melakukan deteksi dini atau mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan jiwa di lingkungan sekitar, mendengarkan keluhan serta membantu mereka yang terindikasi gangguan jiwa agar dapat memperoleh penanganan yang tepat,” ujar Rini.
Rini menjelaskan bahwa penanganan gangguan kesehatan jiwa dilakukan secara berjenjang dan gratis, dimulai dari fasilitas tingkat pertama di puskesmas hingga rujukan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang jika diperlukan.
“Setelah pasien menyelesaikan perawatan dan kembali ke lingkungan tempat tinggalnya, puskesmas akan melanjutkan pemantauan serta pengobatan sesuai kebutuhan. Dalam proses tersebut, kader dapat berperan mendampingi pasien, termasuk membantu memastikan kepatuhan dalam mengonsumsi obat,” jelasnya.
Mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Rini menyebutkan sekitar satu dari empat orang berpotensi mengalami gangguan kesehatan jiwa. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghapus stigma dan membuka ruang dialog yang aman bagi penanganan kesehatan jiwa.
Kegiatan bimtek ini menghadirkan dua narasumber, yaitu psikolog RSUD Gambiran Kristika Sadtyaruni dan perwakilan Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) Alfunnafi’ Fahrul Rizzal. Selain mendapatkan materi, para peserta memanfaatkan forum ini untuk bertukar pengalaman, mendiskusikan kendala lapangan, serta merumuskan solusi pendampingan masyarakat.
“Dengan kerja sama dan kepedulian seluruh pihak, diharapkan tercipta masyarakat yang lebih peduli terhadap kesehatan jiwa, sehingga masyarakat bisa memperoleh dukungan dan penanganan sesuai kebutuhan,” pungkas Rini.(*)











