ADAKITANEWS, Surabaya – Di balik layanan kesehatan yang diterima masyarakat, peran apoteker kerap tak terlihat. Namun, observasi langsung di layanan kefarmasian PLK Kampus C Universitas Airlangga mengungkap bahwa tugas apoteker memegang tanggung jawab besar sebagai garda terakhir untuk memastikan keamanan dan keefektifan pengobatan.
Observasi tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan apoteker jauh lebih kompleks daripada sekadar menyerahkan obat. Salah satu temuan penting adalah kewenangan dan kewaspadaan tinggi yang harus dimiliki apoteker dalam setiap keputusan pelayanan.
Dalam pelayanan obat keras yang pada umumnya memerlukan resep dokter, apoteker tetap memiliki kewenangan menyerahkan Obat Wajib Apotek (OWA) tanpa resep untuk kondisi tertentu yang membutuhkan penanganan segera. Hal ini dilakukan untuk kebutuhan pasien secara mendesak, namun tetap sesuai aturan.
Lebih dari itu, apoteker memiliki kewajiban melakukan screening atau penggalian informasi terhadap pasien. Mereka juga berwenang mengoreksi bila mendapati kesalahan dosis pada resep dokter. Proses verifikasi dilakukan dengan menanyakan usia pasien, serta berat badan bagi pasien anak-anak, kemudian mengonfirmasi kembali kepada dokter yang meresepkan.
Untuk memastikan keakuratan, apoteker memanfaatkan aplikasi referensi seperti Medscape. Prosedur koreksi yang ketat tersebut menjadi benteng penting dalam mencegah terjadinya kesalahan medis.
Observasi juga mengungkap bagaimana apoteker menangani obat kedaluwarsa. Setiap awal bulan dilakukan pengecekan stok secara menyeluruh. Obat yang mendekati masa kedaluwarsa akan diprioritaskan penggunaannya. Bila tidak terpakai, obat dimusnahkan dengan metode khusus sesuai jenisnya. Obat tablet dihancurkan, sementara kemasan dan labelnya dirusak. Untuk obat sirup, cairan dibuang melalui saluran IPAL dan botolnya dirusak. Khusus narkotika dan psikotropika, pemusnahan dilakukan bersama dan berada di bawah pengawasan langsung Dinas Kesehatan.
Selama kunjungan, tim observasi melihat langsung booth apoteker yang didesain mendukung akurasi dan keamanan pelayanan. Lemari obat tertata rapi dengan label jelas. Obat-obatan bernama mirip diberi tanda khusus menggunakan huruf kapital untuk meminimalkan risiko kesalahan. Suhu ruangan dijaga sekitar 25 derajat Celcius, dan obat ditempatkan jauh dari paparan sinar matahari untuk menjaga kualitas.
Layanan kefarmasian di PLK Kampus C Unair tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa, tetapi juga terbuka untuk masyarakat umum. Dengan sistem shift pagi dan siang, keberadaan tenaga farmasi profesional dapat dipastikan setiap hari.
Observasi ini menegaskan bahwa apoteker merupakan pilar penting dalam sistem kesehatan. Melalui ketelitian, kewenangan, dan tanggung jawab yang mereka emban, setiap proses pelayanan obat dapat dilakukan secara tepat, aman, dan bertanggung jawab.
Oleh: Tsurayya Cahya Kirana – Fakultas Farmasi Universitas Airlangga










