ADAKITANEWS, Kediri – Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati mendorong Universitas Islam Kadiri (UNISKA) untuk terus memberikan kontribusi nyata melalui gagasan serta inovasi yang membawa dampak positif bagi masyarakat luas.
Pernyataan tersebut disampaikan Vinanda dalam acara Kuliah Tamu bertajuk “UNISKA Kampus Berdampak: Siap Mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional” yang berlangsung di Aula Lantai 2 Gedung E Kampus UNISKA pada Kamis (10/9/2026). Agenda ini turut menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia Zulkifli Hasan sebagai narasumber utama.
Menurut Vinanda, pemahaman dan ilmu pengetahuan yang ditimba di bangku kuliah hendaknya tidak sebatas menjadi wacana akademis di dalam ruangan. Penerapan ilmu secara praktis sangat dibutuhkan untuk menjawab berbagai tantangan serta persoalan riil di lapangan.
Komitmen tersebut, lanjut Vinanda, telah diwujudkan melalui agenda Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik 2026 UNISKA, salah satunya lewat program SIGAP Pangan yang mulai menyasar isu-isu strategis di tengah masyarakat.
“Dari KKN menjadi program berkelanjutan, dari inovasi mahasiswa menjadi solusi masyarakat, dan dari kolaborasi di tingkat lokal, harapannya bisa memberikan kontribusi bagi agenda ketahanan pangan nasional. Karena itu, Pemkot Kediri terbuka untuk terus berkolaborasi dengan UNISKA maupun perguruan tinggi lainnya dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat,” terang Vinanda.
Ia berharap kehadiran Menko Pangan dapat memicu terciptanya gagasan baru, mempererat jejaring kerja sama, serta mendorong aksi konkret demi memperkuat ketahanan pangan di tingkat daerah maupun nasional.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan menegaskan bahwa sektor pangan tidak sekadar berurusan dengan pemenuhan konsumsi harian. Lebih jauh, pangan merupakan pilar kedaulatan negara dan penentu keberlangsungan hidup para produsen lokal, seperti petani.
Zulkifli menyoroti ketergantungan terhadap produk impor yang berpotensi merugikan iklim pertanian dalam negeri. Menurutnya, praktik impor justru memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani di luar negeri, sementara petani domestik berisiko kehilangan mata pencaharian.
“Kalau kita tidak berdaulat, tidak swasembada, artinya kita beli. Kalau impor beras, yang mendapat manfaat adalah petani di negara yang kita impor. Swasembada pangan tidak boleh ditawar karena merupakan bagian dari kedaulatan dan kehormatan bangsa,” terangnya.
Ia menambahkan, urusan pangan berdampak luas pada produktivitas, daya saing, hingga tingkat kesejahteraan warga. Oleh sebab itu, kalangan akademisi dan mahasiswa dituntut memiliki kapasitas analisis serta daya cipta solusi yang kuat.
Zulkifli meminta para mahasiswa UNISKA untuk senantiasa mengasah pola pikir kritis serta kemampuan memecahkan masalah agar siap menghadapi dinamika di sektor pangan.
“Kalau kita mau maju, kita harus punya critical thinking dan problem solving. Mahasiswa UNISKA harus punya kedua itu. Kalau tidak, kita tidak bisa maju,” pungkasnya.(*)











