ADAKITANEWS, Kediri – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Kediri secara rutin memonitor harga barang serta jasa guna mengawasi pergerakan harga konsumen. Hasil pemantauan berkala tersebut dipaparkan melalui konferensi pers Berita Resmi Statistik yang dilaksanakan secara daring pada Rabu (1/7/2026).
Kepala BPS Kota Kediri, Emil Wahyudiono, menerangkan bahwa Kota Kediri mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,12 persen pada Juni 2026. Persentase ini terhitung lebih rendah jika disandingkan dengan angka inflasi Provinsi Jawa Timur yang berada di angka 0,30 persen ataupun tingkat inflasi nasional yang menyentuh 0,44 persen.
Adapun untuk tingkat inflasi tahunan di Kota Kediri pada periode ini dilaporkan mencapai 2,92 persen.
Emil memaparkan bahwa sektor transportasi menjadi faktor pendorong paling signifikan terhadap inflasi bulanan dengan sumbangsih mencapai 0,25 persen.
Beberapa komoditas utama yang memicu inflasi sepanjang Juni meliputi bensin dengan kontribusi 0,20 persen, bawang putih 0,06 persen, serta emas perhiasan, transportasi udara, dan bawang merah yang masing-masing menyumbang 0,03 persen. Komoditas lain seperti ikan bandeng, wortel, minyak goreng, dan pisang turut andil sebesar 0,02 persen, diikuti perangkat televisi berwarna sebesar 0,01 persen.
Sebaliknya, laju inflasi berhasil diredam oleh penurunan harga sejumlah bahan pangan. Komoditas penahan tersebut di antaranya daging ayam ras dengan andil minus 0,15 persen, cabai rawit minus 0,10 persen, sawi hijau minus 0,07 persen, serta telur ayam ras dan jeruk masing-masing minus 0,03 persen. Selain itu, terong, kelapa, dan cabai merah ikut menekan dengan minus 0,02 persen, sementara semangka dan bayam masing-masing mencatatkan deflasi sebesar minus 0,01 persen.
BPS Kota Kediri juga memberikan catatan mengenai beberapa aspek yang berpeluang memengaruhi fluktuasi harga pada Juli 2026. Perubahan cuaca yang memengaruhi rantai pasok pangan, tingginya permintaan pasar, hingga kebijakan harga BBM nonsubsidi akibat situasi politik dunia menjadi hal yang harus diantisipasi.
Di samping itu, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi bisa memicu kenaikan harga komponen otomotif serta barang-barang elektronik.
Sektor transportasi juga akan dipengaruhi oleh berakhirnya masa promo potongan harga liburan sekolah. Sementara pada bidang pendidikan, momen pergantian tahun ajaran baru diproyeksikan bakal memicu kenaikan biaya sekolah dan kelengkapan belajar.
“Tarif pendidikan juga perlu diwaspadai karena bulan Juli adalah permulaan tahun ajaran baru. Biasanya ada beberapa kenaikan secara berjenjang. Ada pula komoditas yang terkait dengan keperluan sekolah yang biasanya ada penyesuaian harga,” jelas Emil.
Terkait kondisi ini, BPS menyarankan warga agar lebih cermat dalam mengelola anggaran belanja keluarga demi mengantisipasi lonjakan harga di bulan Juli.
Secara terpisah, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Kota Kediri yang juga menjabat Sekretaris Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri mengonfirmasi bahwa inflasi Juni sebesar 0,12 persen utamanya dipicu oleh penyesuaian harga kelompok BBM nonsubsidi. Perayaan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah juga berimbas pada naiknya konsumsi masyarakat terhadap bahan pokok.
Guna mengontrol stabilitas harga di pasar, TPID Kota Kediri berkomitmen melaksanakan pemantauan pasokan barang secara kontinu serta memastikan kelancaran logistik melalui optimalisasi terminal bongkar muat.
Menghadapi bulan Juli 2026, TPID mengingatkan warga akan potensi pembengkakan biaya perlengkapan sekolah anak seperti buku tulis, pakaian seragam, tas, hingga sepatu.
Pihak berwenang mengimbau warga agar berbelanja secara wajar dan menghindari tindakan menimbun barang. Di sisi lain, para pedagang diharapkan ikut menjaga kestabilan harga dengan tidak menahan stok, sementara pemkot akan terus mengawasi distribusi di lapangan.(*)











