ADAKITANEWS, Kediri – Pemerintah Kota Kediri berkomitmen penuh untuk tetap memprioritaskan sektor pendidikan dan kesehatan di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang saat ini tengah dirasakan oleh berbagai daerah di Indonesia. Kebijakan pengetatan ini dipicu oleh rentetan tantangan nasional, mulai dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kendala pasokan listrik, hingga tuntutan efisiensi energi secara makro.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan oleh Wakil Wali Kota Kediri, KH Qowimuddin Thoha yang akrab disapa Gus Qowim, usai membuka Pekan Olahraga dan Seni Antar Madrasah Diniyah (Porsadin) III tingkat Kota Kediri di Pondok Pesantren HM Al Mahrusiyah Lirboyo III, Kelurahan Ngampel, Kota Kediri, Sabtu (20/6/2026) malam.
Menurut Gus Qowim, dampak dari penataan ulang anggaran ini memang berimbas secara masif pada stabilitas fiskal seluruh pemerintah daerah. Kendati demikian, Kota Kediri mengambil sikap tegas untuk membentengi pelayanan publik pada sektor pendidikan dan kesehatan agar tetap bergulir secara optimal dan tidak terganggu.
“Efek dari efisiensi memang luar biasa dan hampir semua daerah mengalami hal yang sama. Namun Kota Kediri akan tetap fokus pada program utama, yakni pendidikan dan kesehatan,” ujar Gus Qowim.
Sebagai instrumen taktis dalam menjawab tantangan lonjakan harga BBM dan kendala pasokan listrik, Pemerintah Kota Kediri telah menggulirkan program penghematan energi yang nyata. Salah satunya dengan mewajibkan penggunaan sepeda kayuh bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan pemkot, khususnya setiap hari Jumat. Skema ini dinilai sangat efektif mereduksi ketergantungan pada kendaraan bermotor dinas maupun pribadi.
“Saat ini upaya yang sudah dilaksanakan adalah penggunaan sepeda bagi ASN setiap hari Jumat. Nanti akan lebih kami galakkan dan maksimalkan. Kota Kediri wilayahnya relatif kecil sehingga program ini sangat memungkinkan untuk diterapkan secara optimal,” katanya.
Di samping pemangkasan konsumsi BBM lewat bersepeda, mitigasi atas kendala pasokan listrik dan efisiensi birokrasi juga diimplementasikan melalui pembatasan aktivitas fisik di perkantoran. Sejak April 2026, Pemkot Kediri telah memberlakukan sistem kerja kombinasi antara Work From Office (WFO) dan Work From Home (WFH) guna menekan pengeluaran operasional gedung, seperti penggunaan pendingin ruangan dan lampu.
Gus Qowim memohon dukungan serta doa restu dari segenap lapisan masyarakat agar jajaran birokrasi Pemerintah Kota Kediri tetap tangguh menakhodai daerah di tengah badai efisiensi, tanpa harus mengorbankan kualitas output pembangunan.
“Kami mohon doa dari seluruh masyarakat agar Kota Kediri tetap mampu membangun, mampu menghadapi situasi ini, dan tetap maksimal dalam menjalankan pembangunan,” tuturnya.
Terkait perumusan pos anggaran mana saja yang akan mengalami rasionalisasi ke depan, Gus Qowim memaparkan bahwa Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati terus melakukan pengkajian, koordinasi, dan evaluasi berkala secara mikro terhadap seluruh program kerja di masing-masing organisasi perangkat daerah.
“Saat ini beliau masih terus melakukan koordinasi, memilah mana yang harus diefisiensi dan mana yang bisa dilonggarkan. Yang jelas, untuk pendidikan dan kesehatan tidak boleh diutak-atik karena itu merupakan kebutuhan dasar masyarakat,” tegas Gus Qowim.
Melalui integrasi berbagai kebijakan tersebut, Pemerintah Kota Kediri berharap langkah penghematan anggaran belanja dan pembatasan konsumsi energi dapat berjalan beriringan secara simultan. Target utamanya adalah mempertahankan standar mutu pelayanan publik serta memastikan program pembangunan strategis yang menyentuh hajat hidup orang banyak tetap terealisasi dengan baik.(*)











