ADAKITANEWS, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkomitmen mendorong industri kecil dan menengah (IKM) untuk meningkatkan skala usaha sekaligus memperluas jangkauan pasar hingga ke tingkat global. Pembinaan difokuskan pada sektor yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif dengan mengoptimalkan adopsi teknologi digital demi membuka peluang ekspor.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengungkapkan bahwa populasi IKM yang mencapai 4,43 juta unit usaha merupakan potensi besar untuk menopang struktur industri nasional. Jumlah tersebut terdiri atas sekitar 4,41 juta industri kecil dan mikro serta 22.161 industri skala menengah.
“Kita bisa konsentrasi pada industri kecil dan menengah yang berorientasi ekspor. Karena di era sekarang, orang bisa berjualan secara online sampai ke luar negeri. Ada teman saya yang bahkan menjual dawet sampai ke Hong Kong. Jadi, urusan ekspor jangan hanya menjadi domain industri besar, tetapi industri kecil dan menengah juga harus bisa,” ujar Sarmuji saat melakukan rapat kerja internal bersama Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) di Jakarta pada Rabu (7/10/2026).
Menurut Sarmuji, perkembangan teknologi digital telah mengubah pola perdagangan dan membantu IKM mengatasi keterbatasan skala usaha serta jarak geografis. Selain mendatangkan devisa, masuknya produk IKM ke kancah internasional juga dinilai berfungsi sebagai bentuk diplomasi lunak untuk memperkenalkan identitas dan kekayaan Indonesia kepada masyarakat dunia.
Di samping itu, Sarmuji meminta agar program pembinaan pemerintah memiliki indikator keberhasilan yang terukur, khususnya dalam hal kemampuan intervensi untuk mengangkat kelas pelaku usaha, seperti dari skala kecil menjadi menengah. Penilaian program pemberdayaan tidak cukup dilihat dari jumlah peserta pelatihan semata, melainkan dari peningkatan produktivitas, omzet, penyerapan tenaga kerja, hingga kemampuan menembus rantai pasok industri.
Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Reni Yanita memaparkan bahwa pengembangan IKM saat ini masih dihadapkan pada delapan tantangan utama, yakni pembiayaan dan permodalan, adopsi teknologi dan literasi digital, sumber daya manusia, rantai pasok dan kemitraan, inovasi dan desain, ketersediaan bahan baku, persaingan global, serta standardisasi. Selain itu, IKM juga menghadapi tekanan dari gempuran produk impor murah.
Untuk mengatasi hal tersebut, Ditjen IKMA menjalankan pendekatan holistik melalui berbagai instrumen pembinaan. Sepanjang 2026 hingga triwulan III, sebanyak 203 IKM telah memperoleh fasilitasi temu bisnis, sementara 313 IKM mendapat pendampingan ekspor. Dari jumlah pendampingan ekspor tersebut, 98 IKM atau sekitar 31 persen telah berhasil melakukan ekspor, sedangkan 215 IKM lainnya masih terus didorong.
Sejumlah program prioritas Ditjen IKMA hingga triwulan III 2026 juga telah melampaui target. Fasilitasi produk dan sertifikasi mencakup 152 IKM dari target 69 IKM, program e-Smart dan literasi digital mencapai 376 IKM dari target 364 IKM, serta layanan Klinik Kemasan dan Hak Kekayaan Intelektual menjangkau 306 IKM dari target 154 IKM. Capaian ini akan terus diakselerasi guna memperkuat daya saing IKM nasional.(*)











