ADAKITANEWS, Jombang – Perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, diharapkan tidak sekadar menjadi ajang pergantian kepemimpinan. Yenny Wahid mendorong agar kepengurusan NU mendatang mampu memanfaatkan muktamar sebagai sarana konsolidasi dan rekonsiliasi guna menyatukan kembali berbagai kelompok yang sempat berseberangan.
Pandangan tersebut disampaikan oleh putri kedua Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat ditemui di Jombang pada Selasa (18/8/2026).
Yenny mengingatkan seluruh peserta dan warga NU agar tidak menganggap muktamar hanya sebagai arena persaingan untuk menentukan pihak yang menang dan kalah. Menurutnya, tantangan terberat justru terletak pada tata kelola organisasi setelah muktamar rampung.
“Siapa pun yang akan memenangkan, akan terpilih, maka kewajiban utamanya adalah menyatukan seluruh faksi yang sekarang terlibat dalam pertikaian,” kata Yenny.
Ia menilai kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang baru perlu bergerak cepat melakukan konsolidasi dan rekonsiliasi. Langkah ini dipandang mendesak untuk memulihkan keutuhan serta soliditas jamiyyah, baik di jajaran pimpinan pusat maupun di tingkat daerah.
Yenny turut berpesan agar proses rekonsiliasi nantinya tidak terkooptasi oleh kepentingan faksi tertentu. Ia menekankan pentingnya mengembalikan nilai-nilai dasar yang telah diwariskan oleh para pendiri Nahdlatul Ulama sebagai panduan utama dalam mengelola organisasi.
Salah satu langkah penting yang ditegaskannya adalah menghidupkan kembali semangat Khittah NU serta memegang teguh Qanun Asasi sebagai kompas perjuangan.
“Mengembalikan NU kembali ke khitahnya, ya. Lalu menjadikan Qanun Asasi sebagai prinsip dasar menjalankan Nahdlatul Ulama ke depannya nanti,” tegas Yenny.
Sebagai informasi, Qanun Asasi merupakan dokumen landasan yang dirumuskan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari pada tahun 1926. Naskah ini menjadi fondasi utama arah pergerakan NU dalam mengawal pilar keagamaan, kemasyarakatan, dan kebangsaan.
Oleh karena itu, Yenny berharap Muktamar ke-35 NU tidak berhenti pada pemilihan Ketua Umum dan penyusunan jajaran pengurus baru. Lebih dari itu, forum tertinggi ini diharapkan mampu melahirkan terobosan konkret untuk menciptakan tata kelola organisasi yang sehat, solid, dan inklusif.
“Jangan sampai muktamar hanya menghasilkan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang lebih penting adalah bagaimana setelah muktamar seluruh warga NU bisa kembali berjalan bersama,” pungkasnya.(*)











