ADAKITANEWS, Blitar – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun terus memperkokoh komitmennya dalam menghadirkan ekosistem transportasi publik yang aman, nyaman, serta bersih dari segala bentuk tindakan pelecehan seksual. Langkah preventif ini diwujudkan melalui aksi kampanye simpatik antipelecehan seksual yang dipusatkan di Stasiun Blitar dengan merangkul komunitas pencinta kereta api atau Railfans dari wilayah Madiun, Kertosono, dan Blitar.
Sinergi lintas komunitas ini menjadi bagian dari strategi pencegahan dini untuk memompa kesadaran kolektif masyarakat, sekaligus memperluas jangkauan penyuluhan terkait pentingnya menjaga kehormatan sesama pengguna jasa di lingkungan perkeretaapian.
Melalui keterlibatan aktif dari kalangan generasi muda ini, manajemen KAI Daop 7 Madiun berharap pesan moral mengenai urgensi keselamatan, perlindungan diri, serta keberanian untuk mengadukan tindakan asusila dapat tersampaikan secara masif kepada khalayak luas.
Sepanjang pelaksanaan agenda tersebut, para anggota komunitas Railfans bersama personel keamanan KAI bahu-membahu menggelar aksi edukatif. Rangkaian kegiatan meliputi pengumpulan tanda tangan petisi dukungan dari para penumpang, pembagian selebaran brosur maklumat, hingga pemasangan spanduk dan media peraga kampanye yang memuat seruan untuk berani melapor jika melihat atau menjadi korban pelecehan seksual.
Manager Humas KAI Daop 7 Madiun, Tohari, menguraikan bahwa kolaborasi yang mempertemukan elemen pencinta kereta dari tiga daerah ini diproyeksikan mampu membangun benteng kesadaran yang lebih pekat di sepanjang koridor operasional Daop 7.
“Kami mengapresiasi semangat luar biasa dari rekan-rekan pencinta kereta api di Madiun, Kertosono, dan Blitar yang telah mengambil peran nyata dalam gerakan ini. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menegaskan kembali kepada seluruh pelanggan untuk tidak ragu bersuara, berani melapor, dan segera meminta pertolongan kepada petugas apabila melihat atau mengalami tindakan yang mengarah pada pelecehan seksual baik saat di stasiun maupun dalam perjalanan naik KA,” kata Tohari.
Otoritas KAI mempertegas posisi perusahaan yang menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap segala bentuk pelanggaran kesusilaan di ruang publik. Pihak manajemen juga telah mematangkan regulasi sanksi berat bagi siapa saja yang teridentifikasi melakukan tindakan asusila tersebut.
“KAI tidak akan memberi ruang sedikit pun bagi pelaku pelecehan seksual. Oknum yang terbukti melakukan tindakan asusila, baik di area stasiun maupun di atas kereta api, akan langsung dikenakan sanksi administratif tegas berupa pemblokiran nomor identitas (blacklist), sehingga tidak dapat lagi menggunakan layanan kereta api untuk jangka waktu tertentu bahkan hingga permanen,” tutur Tohari secara tegas.
Di samping menggencarkan edukasi massa dan penegakan sanksi hukum, KAI juga terus menelurkan inovasi berbasis teknologi informasi demi mengerek indeks rasa aman para penumpangnya. Salah satu terobosan mutakhir yang telah beroperasi adalah penyematan fitur Female Seat Map di dalam aplikasi resmi Access by KAI. Menu digital ini memfasilitasi penumpang wanita untuk memantau pemetaan posisi kursi berdasarkan variabel gender penumpang lain di sekelilingnya.
Fasilitas digital tersebut sengaja dirancang demi menyuguhkan privasi, kenyamanan ekstra, serta ketenangan pikiran bagi kaum perempuan sepanjang menempuh perjalanan menggunakan jalur rel.
Melalui momentum kampanye bersama barisan Railfans ini, KAI Daop 7 Madiun kembali menggarisbawahi visinya untuk menyajikan jasa angkutan yang tidak melulu mengejar aspek keselamatan fisik dan akurasi jadwal keberangkatan, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, kehormatan diri, serta kenyamanan mutlak bagi seluruh pelanggan setianya.(*)











