ADAKITANEWS, Kediri – Fluktuasi kondisi perekonomian global yang tidak menentu berimbas signifikan terhadap geliat bisnis pemotongan hewan kurban di Kota Kediri menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah. Penurunan omzet pedagang ditaksir merosot hingga menyentuh angka 50 persen jika dibandingkan dengan pencapaian musim kurban tahun 2025 lalu.
Kondisi tersebut diakui oleh Satria, salah seorang peternak sekaligus pelapak kambing kurban di Kota Kediri. Menurut pemuda berusia 20 tahun itu, faktor utama yang memicu lesunya daya beli masyarakat saat ini adalah lonjakan harga komoditas ternak yang cukup tajam.
Satria memberikan gambaran, pada momentum menjelang Iduladha tahun lalu, dirinya mampu melempar hingga 30 ekor kambing ke pasaran pada posisi H-1. Namun, peta penjualan pada musim ini menunjukkan grafik yang melambat.
“Alhamdulillah, sekarang H-1 masih terjual 20 ekor. Masih ada harapan besok usai salat ied kemungkinan masih ada yang beli,” tuturnya, Selasa (26/5/2026).
Lebih lanjut, Satria mengidentifikasi bahwa pergerakan nilai tukar mata uang dolar yang melambung tinggi secara tidak langsung ikut memicu pembengkakan biaya operasional dan pakan, yang pada akhirnya mendongkrak harga jual hewan ternak di tingkat pedagang. Kondisi ini yang dinilai menjadi pemicu utama melemahnya transaksi dari konsumen.
“Harganya termahal Rp 4,5 juta, tahun lalu Rp 3,5 juta sudah dapat kualitas super,” katanya membandingkan harga pasar antartahun.
Meski harus memutar otak di tengah penurunan volume penjualan, ia berkomitmen untuk tidak menurunkan standar kelayakan hewan ternak yang dipasarkannya. Pemenuhan regulasi kesehatan dan ketentuan syariat Islam tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
“Biar sah kurbannya, syarat seperti usia dan kebugaran hewan kurban tetap yang utama,” ujarnya.(*)











