ADAKITANEWS, Kediri – Di saat wilayah perkotaan di Kabupaten Kediri terus bersolek dengan pembangunan infrastruktur digital dan modern, sebuah permukiman di kaki Gunung Kelud justru tampak seolah terhenti dalam pusaran waktu. Kampung Onggoboyo, yang terletak di Desa Babadan, Kecamatan Ngancar, menjadi cermin nyata perjuangan warga yang lama terisolasi dari fasilitas dasar.
Kabut tipis dan rintik hujan menyambut kedatangan siapa pun yang menyambangi kampung ini pada Senin (16/3/2026) senja. Di tengah rimbunnya perkebunan, berdiri kokoh bangunan-bangunan tua bergaya Indis dengan tembok tebal khas era kolonial. Bangunan peninggalan Belanda tersebut kini menjadi rumah bagi sekitar 14 kepala keluarga yang masih bertahan.
Panji (53), salah satu penghuni lawas, telah menetap di sana selama 25 tahun. Pria asal Kepanjen, Malang, ini mengisahkan betapa beratnya hidup di wilayah yang dahulu merupakan pusat aktivitas perkebunan, namun kini justru tertinggal dari derap kemajuan zaman.
Hingga beberapa tahun lalu, warga Onggoboyo harus berdamai dengan kegelapan dan krisis air. Listrik baru mengalir pada tahun 2023, sementara akses air bersih baru terwujud pada 2025 berkat kolaborasi Pemerintah Kabupaten Kediri dan PTPN X.
“Dulu air itu sampai beli karena bantuan dari perkebunan tidak mencukupi kebutuhan keseharian. Rumah di sini bekas peninggalan pekerja perkebunan era kolonial, sehingga asetnya milik perkebunan,” ungkap Panji.
Meski air dan listrik mulai masuk ke dalam rumah, persoalan belum tuntas. Akses jalan sepanjang satu kilometer yang membelah perkebunan tebu menuju kampung tersebut masih berupa jalan setapak yang licin dan minim penerangan.
“Karena memang kampung ini letaknya ada di tengah perkebunan. Aksesnya sangat sulit sekali apalagi jika hujan, karena masih jalan setapak,” tambahnya.
Keterbatasan ini juga memicu kecemasan bagi para ibu, salah satunya Winarti. Ia kerap dihantui rasa khawatir setiap kali anaknya berangkat atau pulang sekolah, terutama saat cuaca buruk melanda.
“Saya merasakan ketika anak saya belum pulang sekolah apalagi saat hujan saya sangat cemas ketika melewati jalan menuju kampung ini. Jalannya rusak dan penerangan jalan yang minim,” keluh Winarti.
Harapan warga kini tertumpu pada kehadiran Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, M. Hadi Setiawan, yang berkunjung dalam rangkaian safari Ramadan di Musala An Nuur. Kepada pria yang akrab disapa Cak Hadi tersebut, Winarti menyuarakan dambaan warga akan lingkungan yang terang benderang.
“Kami berharap kampung kami menjadi terang, tak lagi gelap saat malam tiba. Memang di rumah warga sudah teraliri listrik, namun belum menyentuh di infrastruktur jalannya. Karena tiap rumah belum ada meteran listrik, masih jadi satu menumpang di dusun sebelah,” pintanya.
Mendengar keluh kesah tersebut, Cak Hadi menyatakan keprihatinannya. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan dasar adalah hak setiap warga negara yang tidak boleh terabaikan.
“Ini sangat memprihatinkan. Sesama anak warga negara, hidup di masyarakat, tetapi soal penerangan listrik saja masih menjadi masalah. Termasuk soal aksesibilitas,” tegas Cak Hadi.
Namun, Cak Hadi mengakui adanya hambatan regulasi karena status lahan pemukiman tersebut masih berada di bawah Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan perkebunan. Meski demikian, ia menekankan bahwa kepentingan kemanusiaan harus menjadi prioritas.
“Hak atas tanah itu masih HGU. Tetapi kalau sudah dilegalkan dan mendapat izin dari pemangku hak tanah, seharusnya juga dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas lain karena ini menyangkut hajat orang banyak,” ujarnya.
Cak Hadi berkomitmen untuk segera berkoordinasi dengan pemerintah desa dan pemangku kebijakan guna mencari solusi jangka panjang, termasuk menjajaki potensi Kampung Onggoboyo sebagai destinasi wisata sejarah yang dapat mendongkrak ekonomi warga.
Dalam kunjungan yang mengharukan tersebut, Cak Hadi juga menyalurkan bantuan sembako dan santunan. Ia terkesan dengan semangat warga yang tetap tangguh meski harus hidup dalam sunyi dan gelapnya perkebunan.
“Kami buka bersama dengan warga di sana dan sangat mengharukan. Di tengah kondisi seperti itu, saat listrik mati suasananya benar-benar gelap. Namun warga tetap menyambut dengan penuh semangat. Semoga apa yang kami lakukan bisa bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.(*)











