ADAKITANEWS, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional tetap dalam kondisi terjaga, meskipun dinamika perekonomian global dan domestik dihadapkan pada sejumlah tantangan di awal tahun 2026. Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan yang dilaksanakan pada 25 Februari 2026.
Berdasarkan siaran pers hasil RDK yang dirilis pada Selasa (3/3/2026), OJK memandang kinerja ekonomi global secara umum masih menunjukkan tren positif, didorong oleh penguatan sektor manufaktur dan pulihnya kepercayaan konsumen. Meski demikian, OJK mewaspadai peningkatan tensi geopolitik serta fragmentasi geoekonomi, khususnya di kawasan Timur Tengah dan perubahan kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS), yang berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan global.
Kondisi ekonomi AS pada kuartal IV/2025 tercatat tumbuh 1,4 persen secara kuartalan (qtq), angka ini berada di bawah ekspektasi pasar yang sebelumnya diprediksi mencapai 2,5 persen. Perlambatan tersebut dipicu oleh fenomena government shutdown dan penurunan konsumsi, walaupun sektor tenaga kerja masih cukup solid. Tekanan inflasi yang kembali merangkak naik memicu ekspektasi bahwa kebijakan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama (higher for longer).
Di sisi lain, perekonomian Tiongkok terpantau masih bergulat dengan lemahnya permintaan domestik akibat krisis sektor properti yang belum usai, meskipun performa sektor eksternal mereka tetap mencatatkan surplus.
Meninjau kondisi domestik, ekonomi Indonesia menunjukkan performa tangguh dengan pertumbuhan sebesar 5,39 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal IV/2025. Secara akumulatif, pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2025 mencapai 5,11 persen. Meskipun inflasi headline mengalami kenaikan tipis akibat efek basis rendah tahun sebelumnya, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tetap berada pada zona optimistis dan aktivitas manufaktur masih terus berekspansi di awal 2026.
Pada pasar keuangan dalam negeri, tekanan di pasar modal mulai mereda sepanjang Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 27 Februari 2026 ditutup pada level 8.235,49, atau terkoreksi sebesar 1,13 persen dari posisi sebelumnya. OJK menilai fluktuasi ini masih dalam batas kewajaran mengingat kondisi volatilitas global yang dinamis.
OJK menegaskan komitmennya untuk terus memperkokoh ketahanan serta integritas sektor jasa keuangan demi menyokong stabilitas sistem keuangan nasional. Pengawasan yang ketat dan kebijakan yang responsif akan terus dilakukan guna memastikan sektor jasa keuangan siap menghadapi tantangan global maupun domestik sepanjang tahun 2026.(*)











