ADAKITANEWS, Kediri – Suasana khidmat dan penuh kehangatan menyelimuti agenda silaturahmi serta buka puasa bersama di Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah, Kelurahan Banjaran, Kota Kediri, Rabu (4/3/2026). Memasuki hari ke-14 Ramadan 1447 Hijriah, pihak pesantren menyalurkan santunan kepada 100 anak yatim serta mendistribusikan 750 paket sembako bagi fakir miskin dan keluarga prasejahtera di lingkungan sekitar.
Ketua Pondok Pesantren Wali Barokah, Sunarto, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk rasa syukur sekaligus komitmen lembaga untuk terus menebar manfaat pada bulan suci.
“Ini bagian dari ikhtiar kami memperkuat ukhuwah, mempererat silaturahim, dan berbagi kepada masyarakat. Ramadan harus menjadi momentum kepedulian,” ujar Sunarto.
Agenda tersebut dihadiri oleh Vinanda Prameswati, Wakil Wali Kota Kediri KH Qowimudin Toha, unsur Forkopimda, jajaran DPRD, tokoh agama, pimpinan ormas Islam, hingga perangkat kecamatan dan kelurahan.
Dalam sambutannya, Vinanda Prameswati menegaskan bahwa sinergi antara ulama, umara (pemerintah), aparat, dunia usaha, dan masyarakat merupakan fondasi utama kekuatan Kota Kediri.
“Kota ini akan kuat jika ulama dan umara berjalan beriringan. Jika pesantren, organisasi keagamaan, aparat, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat saling percaya dan saling menopang,” tegas Vinanda.
Ia juga memastikan Pemerintah Kota Kediri terus berupaya menjaga stabilitas harga pangan, memperkuat perlindungan sosial, serta mengendalikan inflasi agar bantuan sosial tepat sasaran, terutama menjelang Idulfitri.
Sementara itu, tausiah keagamaan disampaikan oleh Ketua PCNU Kota Kediri, KH Abu Bakar Abdul Jalil atau yang akrab disapa Gus Ab. Ia menekankan pentingnya menjaga persaudaraan dan menjadikan Ramadan sebagai ruang untuk memperbaiki diri sekaligus memperkuat solidaritas sosial.
“Ramadan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan ego, menahan prasangka, dan menumbuhkan empati. Jika hati kita bersih, maka kota ini akan dipenuhi keberkahan,” tutur Gus Ab.
Gus Ab mengingatkan bahwa kekuatan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, melainkan dari kokohnya akhlak masyarakat. Menurutnya, jika ulama menjaga nilai, umara menjaga kebijakan, dan aparat menjaga keamanan, maka Kediri akan menjadi kota yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Ia juga mengapresiasi konsistensi Ponpes Wali Barokah dalam menyelenggarakan santunan rutin setiap tahun. Kepedulian terhadap anak yatim dan dhuafa dinilai sebagai cermin keimanan sekaligus fondasi ketahanan sosial yang kuat.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk memohon perlindungan bagi Kota Kediri agar senantiasa dijauhkan dari perpecahan serta terus berkembang menjadi kota yang mapan, rukun, dan sejahtera.(*)











