ADAKITANEWS, Sidoarjo – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Sidoarjo pada Sabtu malam (28/2/2026) tidak menyurutkan kekhusyukan pelaksanaan Tadarus Puisi Ramadan yang digelar oleh Forum Deklamator Jawa Timur (FDJT). Bertempat di Pondok Pesantren Al Hamdaniyah Siwalanpanji, kegiatan yang bertepatan dengan hari ke-10 puasa Ramadan ini berlangsung khidmat meski lokasi acara harus menyesuaikan kondisi cuaca.
Rangkaian acara dimulai usai salat tarawih, di mana para anggota FDJT berkumpul di kediaman ketuanya, Zabid WS, sebelum bertolak menuju pesantren pada pukul 20.30 WIB. Setibanya di Desa Siwalanpanji, rombongan disambut suasana religius pengajian kitab kuning yang merupakan tradisi turun-temurun di pondok tersebut. Akibat hujan dengan intensitas tinggi, panitia memutuskan memindahkan lokasi tadarus dari area terbuka ke dalam musala pesantren.
Mengusung tema “Ramadan, Sebuah Perjalanan Spiritual Menuju Pribadi yang Lebih Baik,” acara dibuka dengan lantunan Kalam Ilahi oleh santri setempat. Dalam sambutannya, Ketua FDJT Zabid WS menjelaskan bahwa kehadiran para pegiat sastra senior Jawa Timur era 90-an ini bertujuan untuk mentransfer ilmu kepada generasi muda.
“Kami ingin berbagi ilmu dan pengalaman, khususnya dalam dunia sastra dan baca puisi, kepada para santri,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Hamdaniyah, KH. M. Hasyim Fahrurrozi atau Gus Hasyim, menyambut hangat kolaborasi budaya ini. Ia memaparkan sejarah panjang pesantren yang didirikan oleh Romo Kyai Hamdani pada tahun 1787 dengan pendekatan dakwah budaya ala Walisongo. Hingga saat ini, bukti sejarah berupa “gutekan” atau kamar panggung peninggalan masa dakwah awal masih terawat dengan baik di lingkungan pesantren.
Acara inti menampilkan parade pembacaan puisi yang dibuka oleh tiga santri, kemudian dilanjutkan secara bergantian oleh para deklamator FDJT. Fathur ER mengawali sesi dengan puisi bertajuk Dzikir Sebutir Debu dan Pasukan Kuda Jantan, disusul penampilan dari MISDI, Bagus S, Rivnos, Eko Tjahyono, Yusril, Satria, dan ditutup oleh deklamasi Zabid WS.
Kegiatan yang ditutup dengan sarasehan hangat dan doa bersama pada pukul 23.30 WIB ini menegaskan harmoni antara sastra, budaya, dan spiritualitas. Meski hujan terus mengguyur, semangat literasi dan religi yang berpadu di musala Ponpes Al Hamdaniyah memberikan kesan mendalam bagi seluruh peserta yang hadir.(*)











