PUASA adalah ibadah yang sangat privat. Ia merupakan sebuah perjanjian sunyi, sebuah komitmen langsung antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Namun, di balik kesunyiannya, puasa menyimpan kekuatan besar yang mampu membentuk karakter dan masa depan kita.
Keutamaan puasa tidak hanya terletak pada tumpukan pahala, tetapi juga pada fungsinya sebagai pembersih jiwa. Rasulullah SAW menegaskan bahwa barangsiapa yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.
Namun, puasa tidak berhenti pada urusan masa lalu. Ia juga berfungsi sebagai perisai (al-junnah) yang melindungi kita dari pengaruh negatif dan godaan kemaksiatan di masa depan. Perisai ini hanya akan berfungsi maksimal jika kita mampu menjaga kualitas puasa dari hal-hal yang dapat merusak esensinya.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang sangat populer:
> وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan bertengkar. Jika seseorang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Aku sedang berpuasa’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Agar puasa tidak sekadar menjadi ritual menahan haus dan lapar, berikut adalah beberapa poin penting untuk menjaga kekuatan perisai ibadah kita:
– Menjaga Lisan: Menghindari dusta, ghibah (gosip), dan kata-kata kasar yang dapat menggugurkan pahala puasa.
– Menjaga Integritas: Tetap jujur dan amanah dalam bertindak, meski tidak ada mata manusia yang melihat. Inilah esensi ihsan.
– Kontrol Emosi: Berlatih untuk tetap sabar dan tenang. Puasa adalah momentum terbaik untuk menjinakkan ego dan amarah.
Jangan sampai puasa kita hanya menyisakan rasa lapar yang sia-sia. Dengan menjaga kualitas ibadah ini, kita sebenarnya sedang membangun benteng perlindungan yang kokoh. Benteng ini akan menjaga masa depan kita dari perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Semoga Ramadan kali ini menjadi pijakan bagi kita untuk terus memupuk kualitas iman. Mari jadikan setiap detiknya sebagai sarana menempa diri menjadi pribadi yang lebih bertakwa dan bermanfaat bagi sesama.
Oleh: Gus M Ubaidillah Asyfa’i – Tulungagung











