Sengketa Berdarah Di Tanah Suci

Negara Palestina memiliki tempat khusus bagi umat Islam seluruh dunia. Karena di situlah terdapat masjid bernama Al-Aqsha, yang merupakan kiblat pertama umat Islam dan masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Palestina adalah tanah yang diberkahi. Di Palestina, terdapat sebuah kota yang terus bergema di hati umat Kristen, Yahudi dan Islam, karena sejak berabad-abad tanah itu menjadi sengketa berdarah dan memiliki sejarah bersama. Selain itu lokasi Palestina juga strategis, antara Mesir, Suriah dan Jazirah Arab. Negara satu ini punya nama besar, sebagai titik persimpangan berbagai agama, budaya, perdagangan, bahkan politik.

Sangat disayangkan, Palestina masih saja dirundung konflik berkepanjangan. Hingga saat ini konflik perebutan wilayah antara Palestina dan Israel tak menemukan titik terang. Perang terus terjadi hingga menyisakan duka mendalam bagi seluruh rakyat Palestina yang keberadaannya semakin tersingkirkan. Ketegangan antara pasukan keamanan Israel dengan warga Palestina kembali terjadi hingga detik ini. Bahkan sekarang, Israel juga membatasi umat muslim yang akan beribadah di kompleks Masjid Al-Aqsa.

Perang yang terjadi menyebabkan banyak bangunan yang rusak dan korban yang tewas. Bahkan mereka merenggut masa kanak-kanak yang seharusnya mengemban ilmu pendidikan, menikmati kasih sayang pelukan dari orang tua, malah beralih bertempur di medan perang.

Salah satu korban anak yang menjadi perhatian internasional adalah penangkapan Ahed al-Tamimi, bocah perempuan yang ditangkap militer Israel di Nabi Saleh, dekat Ramallah. Ahed ditangkap karena menampar seorang militer Israel. Para pegiat hak-hak sipil mengatakan, hukum Israel tak punya sistem untuk melindungi anak-anak selain itu tidak ada jaminan proses hukum yang adil.

Tidak mengenal usia bahkan jabatan, mereka juga membunuh rekan medis yang sedang bertugas di Jalur Gaza. Razzan Al Najjar, yang sedang bertugas di perbatasan Palestina – Israel ditembak oleh militer Israel. Komisioner PBB untuk HAM, James Heenan menyatakan bahwa menurut UU HAM Internasional, senjata mematikan hanya boleh digunakan sebagai langkah terakhir ketika ada ancaman yang nyata. “Bagaimana mungkin Razan dianggap sebagai ancaman di hadapan militer Israel yang dilengkapi senjata berat, sangat terlindung, dan dalam posisi siaga di seberang pagar?” tanya Heenan. Pertanyaan serupa terus diucapkan setiap kali kejahatan kemanusiaan Israel diberitakan.

Tidak berhenti disitu, saat kedutaan besar AS untuk Israel di Yerusalem secara resmi dibuka, juga menambah catatan korban bagi warga Palestina di perbatasan Gaza- Israel. Itu karena aksi unjuk rasa warga Palestina yang menentang keras peresmian kedutaan besar tersebut. Mereka juga memenjarakan wanita dan anak di bawah umur, karena aksi peresmian kedutaan besar AS di Yerussalem. Bahkan akhir-akhir ini, Israel mengancam akan menggelar operasi militer setelah terus menerus diserang dengan roket dan layang-layang api yang dikirim warga Palestina, yang mengakibatkan kebakaran di wilayah Israel.

Sebelum ada negara Israel, Palestina membuka pintunya untuk menerima sekitar 700 ribu pengungsi Yahudi yang melarikan diri dari Perang Dunia I dan Holocaust. Jumlah ini sangat besar jika mencermati populasi Muslim Palestina tahun 1947 yang hanya sekitar 1,2 juta orang. Itu sebabnya, Palestina tidak memberikan suaranya mendukung negara Israel didirikan. Pengakuan atas fakta ini penting untuk menggambarkan sejarah saat berusaha menemukan kesepakatan bersama untuk masa depan. Meski begitu Palestina juga pernah menjadi darah yang damai, sejuk, indah dan tenteram di tempo dulu.

Israel seolah tak tersentuh, sementara dunia hanya mampu memberikan kecaman sporadis. Ketika kejahatan Israel tereskalasi dan mendapatkan perhatian dari publik, kecaman memanas. Namun setelah itu dunia diam, sampai muncul lagi kejahatan besar berikutnya. Hanya waktu yang menjawab. Semua kita serahkan pada kuasa-Nya, kelak pembalasan akan mereka terima di hari yang tepat dan waktu yang tepat.

Oleh : Riza Fatmawati
Prodi Ilmu komunikasi (S1)/ Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
NIM: 17202200020

Related posts

Leave a Comment