Pemkab Anggarkan Insentif GTT di Tulungagung Rp 250 Ribu Perbulan

ADAKITANEWS, Tulungagung – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tulungagung berencana akan memberikan insentif berupa transport bagi tenaga pendidik yang berstatus honorer atau Guru Tidak Tetap (GTT) yang mengajar di Sekolah Dasar (SD).

Pemberian insentif tersebut bertujuan untuk memberikan kesejahteraan GTT. Sedangkan anggarannya diambil pada saat perubahan anggaran keuangan (PAK) tahun 2017 ini.

“Kami memiliki rencana mengalokasikan anggaran khusus untuk memberikan transport bagi mereka (GTT,red). Saya akui kesejahteraan GTT belum maksimal, karena terbentur aturan,” kata Bupati Tulungagung, Syahri Mulyo.

Syahri tidak memerinci secara detail berapa anggaran yang diberikan. Namun rencananya, pihaknya akan mengalokasikan tunjangan transport setiap GTT sebesar Rp 250 per bulan. Tapi, tunjangan tersebut hanya diberikan kepada pendidik di sekolah dasar yang menjadi guru kelas.

“Sementara yang diberi hanya tenaga pendidik yang mengisi kelas kosong atau menjadi guru kelas saja. Jadi belum secara keseluruhan,” tambahnya.

Rencana Syahri Mulyo ini dibenarkan Ketua DPRD Tulungagung, Supriyono. Ia mengatakan, meski telah menjadi rencana pihak Pemkab, pemberian insentif tersebut baru bisa direalisasikan setelah usulan pada perubahan APBD disetujui.

“Ya ini masih awal. Namun dari beberapa rapat, paling lambat bisa segera direalisasikan setelah perubahan APBD disahkan,” tegas Supriyono.

Sementara itu, Ketua DPD Komite Nusantara Aparatur Sipil Negara (KN ASN) Tulungagung, Muhammad Yenri Sufianto menyambut baik rencana yang akan dilakukan oleh pemerintah daerah.

Meski rencana tersebut merupakan bentuk perhatian bagi para GTT, namun sayangnya transport tersebut hanya diberikan sebagian, yaitu untuk guru kelas. Hal ini, akan menimbulkan masalah baru.

“Kalau yang diberi insentif hanya sebagian saja, saya khawatir memunculkan permasalahan baru dan akan terjadi kecemburuan sosial. Idealnya ya semua, dan kami menunggu untuk segera direalisasikan setidaknya awal tahun 2018 mendatang,” kata Muhammad Yenri Sufianto.

Yenri menyampaikan, dari datanya, setelah ada rasionalisasi yaitu penataan terhadap GTT di SD, menyusut dari 3.000 guru, menjadi 2.700 guru. Penyusutan tersebut, karena sekitar 300 diantaranya merupakan data fiktif. Dan ketika dilakukan pendataan di lapangan, mereka jarang masuk.

Yenri menambahkan, 2.700 guru tersebut merupakan GTT aktif, mulai dari guru kelas, mapel bahasa Inggris, olahraga dan lainnya.

“Jika rencana pemberian insentif itu hanya untuk guru kelas, maka yang menerima sebanyak 1.250 guru. Selebihnya, 1.450 guru tidak mendapatkan,” pungkasnya.(ta1)

Keterangan gambar : Suasana di SDN Ngranti 1 Boyolangu.(foto : acta cahyono)

Related posts

Leave a Comment