Ratusan Penyehat Tradisional di Blitar Tak Terdaftar Resmi

ADAKITANEWS, Blitar – Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar, saat ini ada ratusan tempat praktik penyehat tradisional (hatra) di Kabupaten Blitar tak berizin. Dari total sekitar 300 praktik hatra, hanya sekitar 23 yang resmi mendaftarkan izin beroperasi. Hal ini membuat masyarakat perlu teliti dalam memilih pengobatan tradisional.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati mengatakan, data tersebut didapat dari pendataan Dinkes dan kepanjangannya, yakni puskesmas yang tersebar di 22 Kecamatan.

dr Cristine menjelaskan, pada peraturan terbaru saat ini dalam perizinan yang mengeluarkan adalah Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM PTSP) Kabupaten Blitar. “Kalau hatra yang sudah terdaftar di tahun 2017 yang lalu hanya 8. Sedangkan di awal tahun 2018 ini sampai Mei baru 3 hatra yang mengajukan pendaftaran, Artinya masih sangat sedikit yang mendaftar,” pungkasnya, Sabtu (02/06).

Menurutnya, penting bagi praktik hatra mengurus izin ini. Sebab, dalam pengurusan izin ini secara otomatis hatra akan mendapat binaan dari Dinkes dan Asosiasi Hatra. Dengan demikian praktik yang diharapkan profesional tidak sampai merugikan pasien.

“Mereka mempunyai persepsi bahwa mengurus izin itu mahal. Padahal yang sebenarnya itu gratis. Lalu ada lagi takut nanti malah dilarang buka praktik. Padahal, kami tidak melarang tapi kami meluruskan supaya praktik tersebut aman,” ujarnya.

Selain itu, kata dr Cristine, hatra ini tak hanya pengobatan herbal saja, namun juga tukang pijat, bekam, spa, akupresur, sangkal putung dan akupuntur. Dari hatra tersebut, ada pengobatan yang mungkin prosedur pelaksanaannya tidak sesuai ilmu medis sehingga berisiko pada pasien.

“Ya seperti pengobatan yang caranya pakai melukai, itu saran kami memang harus benar-benar sesuai dengan aturan kesehatan. Misalnya dengan model yang tusuk jarum atau dengan apalah, alat harus satu kali pakai saja lalu dibuang karena ditakutkan bisa menularkan penyakit,” tandasnya.

Untuk para pelaku praktik hatra, ia mengimbau untuk segera mengurus izin dengan bergabung dulu di asosiasi. Sedangkan untuk masyarakat, harus teliti memilih hatra untuk berobat mengingat ada data yang demikian.

“Kita tak melarang masyarakat berobat ke mana pun. Itu kan pilihan dari masing-masing orang. Tetapi mereka perlu teliti,” imbuhnya.(fat/wir)

Keterangan gambar: dr Cristine Indrawati, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Kabupaten Blitar.(foto : fathan)

Related posts

Leave a Comment