Harapan Fara, Penderita Hipertiroid yang Bercita-cita jadi Pramugari

ADAKITANEWS, Kediri – Auliya Fara Sya’bani, gadis berusia 18 tahun yang didiagnosa oleh dokter menderita hipertiroid, tampak terbaring lemas di atas tikar berukuran 2 x 1 meter di ruang tamunya, Kamis (24/11).

Ditemui di rumahnya di Jalan Cendana 64B, RT.15/RW.4 Kelurahan Singonegaran Kecamatan Pesantren Kota Kediri, anak keempat dari lima bersaudara ini tampak sesekali membalas pertanyaan Tim Adakitanews dengan senyum kecilnya. “Saking pundi (dari mana,jawa-red)?” sahutnya.

Anak dari pasangan Mujiono, 56, dan Sriani, 47 ini, diketahui didiagnosa oleh dokter memiliki penyakit hipertiroid, atau kelebihan hormon tiroid.

Sriani menceritakan, gejala penyakit yang diderita anaknya tersebut muncul sekitar bulan Juli 2021 lalu. Saat itu, kondisinya mirip seperti gejala akibat chikungunya. “Awalnya sekitar bulan Juli lalu. Seperti chikungunya. Lemas,” kata Sriani yang nampak menahan kesedihan di balik ketegarannya.

Sriani mengatakan, anaknya pernah dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gambiran untuk menjalani pengobatan. Di sana, siswi kelas 3 SMA Pawyatan Daha tersebut juga sempat menginap di rumah sakit selama sekitar 10 hari sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.

Dari gejala yang timbul, kulit Fara, sapaan Auliya Fara Sya’bani, awalnya hanya muncul bintik-bintik layaknya jerawat biasa. Namun kemudian, bintik-bintik kecil itu merembet ke bagian tubuh lain hingga hampir merata.

Oleh pihak Rumah Sakit, Fara kemudian diminta untuk ke Puskesmas mengambil rujukan agar diarahkan ke dokter spesialis kulit.

“Sekarang rutin kontrol (check-up) sebulan sekali,” kata Sriani.

Dikatakannya, dengan kondisi Fara yang saat ini masih terbaring lemas dan hampir sulit berjalan, ia dan suaminya pun hanya bisa mengandalkan motor miliknya untuk berboncengan tiga menuju ke RSUD Gambiran yang berjarak sekitar 2,5 kilometer.

“Yang sekarang kami pikirkan itu kesulitan kontrolnya. Kalau mau ke rumah sakit, dulu sering boncengan tiga dengan bapaknya. Sekarang agak susah. Anaknya (Fara,red) sulit berjalan dan kadang muncul gejala kejang juga pas mau berangkat,” tuturnya.

Tak hanya itu, jadwal check-up juga terpaksa menyesuaikan dengan pekerjaan suaminya yang saat ini menjadi cleaning service di Kota Surabaya dan hanya bisa pulang seminggu sekali. “Itu juga harus izin dulu kalau mau mengantar kontrol,” imbuhnya.

Hingga kini, Sriani dan suaminya juga mengaku masih mencari cara terbaik untuk kesembuhan anaknya.

Terkait aktivitas sekolah Fara, Sriani menuturkan bahwa dari pihak sekolah sudah membebaskan anaknya dari tugas-tugas yang memberatkan. “Kalau guru dan sekolahnya, sudah pernah juga menjenguk ke sini. Intinya tidak apa-apa. Konsentrasi sembuhnya dulu,” tiru Sriani.

Sriani berharap ada solusi terbaik bagi kesembuhan putrinya. “Kalau misalnya bisa dirujuk ke rumah sakit lain yang sesuai dengan kondisi anak saya, saya pasrah,” tutup Sriani sedikit mengusap air matanya.

Sementara itu kepada Tim Adakitanews, Fara juga mengatakan harapannya untuk bisa segera sembuh dan menjalani aktivitas seperti biasanya. Ia bahkan mengaku saat lulus nanti ingin menjadi seorang pramugari.

“Kulo kepingin dados pramugari (saya ingin jadi pramugari,jawa-red),” cetus Fara pelan.(*/kur)


Keterangan gambar: Sriani saat menyuapi Auliya Fara Sya’bani dan kondisi Fara sebelum menderita sakit.(foto: Kurniawan)

Related posts

Leave a Comment