Tiga Apotek di Tulungagung Dalam Pengawasan Khusus

ADAKITANEWS, Tulungagung – Sebanyak tiga apotek di wilayah Kabupaten Tulungagung, kini dalam pantauan khusus dari Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Ketiga apotek itu, dua diantaranya berada di wilayah Kecamatan Tulungagung dan satu apotek lainnya berada di Kecamatan Sumbergempol.

Pantauan khusus ini dilakukan, berdasarkan hasil inspeksi mendadak (Sidak) yang dilakukan Dinkes bersama Satuan Reserse Narkoba (Satreskoba) Polres Tulungagung pada (Senin 18/09) lalu.

Dalam sidak tersebut, petugas menemukan peredaran obat keras tertentu yang penggunaannya harus dengan resep dokter, namun ketika dilakukan pemeriksaan, alur peredaran obat tersebut tidak jelas kepada siapa saja yang telah menggunakan.

“Saat kami lakukan pemeriksaan, petugas tidak bisa menunjukkan kemana saja peredaran obat tersebut, dengan alasan dokumen yang berupa resep dokter hilang,” kata Masduki, Kasi Farmasi dan Perbekalan Dinkes Tulungagung.

Lanjut Masduki, tujuan awal sidak tersebut adalah untuk memantau peredaran Paracetamol Capein Carisoprodol (PCC) yang telah menelan korban di sejumlah kota di luar pulau Jawa. Namun tim Dinkes dan Satreskoba, justru menemukan empat jenis obat keras tertentu yang diidentifikasi berbahaya jika dikonsumsi tanpa resep dokter.

“Temuan kami antara stok dan bukti fisik yang ada tidak sesuai. Makanya kami minta apotek tersebut mempertanggungjawabkan, kemana obat tersebut dijual,” ujar Masduki.

Masduki memerinci, ada empat jenis obat keras tertentu yang disita. Masing-masing Haloperidol 1,5mg, Haloperidol 3mg, CPZ 100mg dan Triflfuoperazin 5mg. Dalam temuan tersebut, Haloperidol 1,5mg tercatat ada 76 butir dalam kartu stok, namun bukti fisik hanya 31 butir atau selisih 45 butir. Haloperidol 3mg tidak terdaftar dalam kartu stok, namun bukti fisik 10 butir. CPZ 100mg tidak terdata dalam kartu stok, namun bukti fisik ada 255 butir. Sedangkan Triflfuoperazin 5mg, jumlah fisik 173 butir namun tidak dicatat dalam kartu stok.

“Maaf saya tidak bisa menyampaikan data apotek tersebut, tapi ketiga apotek ini statusnya dalam pantauan khusus dari Dinkes dan Satreskoba, sampai pihak apotek mampu menunjukkan bukti alur peredaran obat yang telah dikeluarkannya,” ujar Masduki.

Sementara itu, AKP Suwancono, Kasat Reskoba Polres Tulungagung mengingatkan, pemilik apotek agar mematuhi undang-undang kesehatan, undang-undang psikotropika, undang-undang narkotika serta aturan lainnya, agar tidak terjerat kasus hukum.(ta1)

Keterangan gambar : Petugas Satreskoba Polres Tulungagung menunjukkan jenis obat yang penggunaannya harus dengan resep dokter.(foto : acta cahyono)

Related posts

Leave a Comment