Teruskan Usaha Suami, Pencipta Belangkon Pacul Gowang Khas Sidoarjo Makin Banjir Pesanan

ADAKITANEWS, Sidoarjo – Memiliki bisnis dan usaha sendiri di era milenial seperti sekarang, bisa dibilang selalu menjadi impian sebagian orang. Tak cukup bermodal materi maupun kemampuan, daya kreativitas juga menjadi dasar agar bisnis apapun mampu bersaing di dunia global. Salah satunya pemilik usaha Belangkon Pacul Gowang asal Kabupaten Sidoarjo ini, yang kini semakin dilirik konsumen dari berbagai daerah.

=========

Kemajuan teknologi dan informasi saat ini, membuat segala hal semakin mudah. Tak terkecuali dalam dunia bisnis dan pemasaran. Kemudahan-kemudahan itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh Ririn, 35, warga asal Desa Sawocangkring Kecamatan Wonoayu Sidoarjo dalam memasarkan serta memperkenalkan belangkon khas asal Sidoarjo buatannya.

Berkat pemikiran dan ide-ide kreatif ibu dua anak ini, usahanya kini semakin berkembang pesat bahkan sampai kebanjiran pesanan. Mulai dari pemesan melalui online maupun datang langsung tempat produksi, yang berada di sebelah rumahnya.

Setiap pagi di rumah Ririn, aktivitas menjahit jarit atau kain batik panjang sebagai bahan baku pembuatan belangkon sudah mulai dilakukan. Tak hanya itu, cetakan yang terbuat dari kayu dan dibentuk menyerupai kepala manusia, juga tampak disiapkan. Tangan-tangan rajin para pekerja, kemudian mulai memukulkan palu kecil untuk merajut jarit hingga membentuk sebuah belangkon, yang kemudian ditata rapi untuk dijemur.

Ririn atau yang oleh para tetangga dan para karyawannya akrab disapa Mbak Ririn ini mengaku, menjalankan usaha menjadi pengerajin belangkon sudah hampir 30 tahun lebih bersama sang suami yang sudah meninggal delapan bulan lalu. Meskipun di daerahnya ada beberapa pengerajin belangkon, namun mereka memiliki model yang berbeda-beda sehingga semua pengerajin tetap memiliki pelanggan sendiri-sendiri.

“Meneruskan usaha suami, sejak 30 tahun yang lalu sejak kita belum menikah suami saya sudah membuat belangkon namun dulu tidak sebesar ini. Namanya juga masih merintis,” ungkap Mbak Ririn saat ditemui Tim Adakitanews di sebuah ruang kaca, tempat memajang belangkon hasil produksinya yang sudah siap dikirim ke pelanggan, Sabtu (03/11) sore.

Ririn menceritakan, almarhum suaminya, Abdul Rokib wafat di usia 47 tahun. Mereka juga telah dikaruniai dua anak. Yang pertama adalah perempuan dan kini duduk di bangku SMA, sedangkan adiknya, laki-laki dan masih berusia empat tahun. “Sejak dulu pekerjaan suami saya ya membuat belangkon ini saja,” ungkapnya.

Setelah ditinggal pergi suaminya delapan bulan silam, Ririn kini mengurusi usaha kerajinan belangkon sendiri. Dengan dibantu delapan orang pekerja, yang digaji dengan sistem borongan per kodi. Dari 8 orang yang membantunya, dalam sehari Ririn mengaku mampu memproduksi hingga 8 kodi atau 140 biji belangkon.

“Mulai kerja sekitar pukul 08.00 WIB kadang juga tidak pasti. Saya mempekerjakan orang-orang di sekitar sini, saya ajari kemudian membantu bekerja disini. Kalau untuk omzetnya saya tidak bisa menghitung pastinya. Satu bulan ya sekitar Rp 25 juta lebih lah. Itu belum dipotong gaji pekerja,” katanya.

Dari delapan orang pekerja, dua orang memproduksi membuat belangkon di rumah Ririn. Sebagian membentuk belangkon dan dua orang lain bertugas untuk menjahit. Beberapa orang karyawan juga ada yang memilih mengerjakan di rumah masing-masing. “Dua orang dikerjaan di rumah, dua orang khusus menjahit jarit dan sisanya garap di tempat saya sini,” kata Ririn.

Beberapa jenis model belangkon mampu dibuat oleh Ririn bersama para pekerja kreatifnya. Diantaranya belangkon model pacul gowang, model Cak dan Ning Jawa Timuran, Madura dan model Ponorogoan.

Dikatakan Ririn, dengan banyaknya model yang ia buat, ada satu model belangkon hasil ciptaannya sendiri yang pernah mendapat penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. “Yang model Pacul Gowang ini saya sendiri yang menciptakan. Belangkon ciptaan saya ini pernah mendapat penghargaan dari Pemkab Sidoarjo. Namun waktu itu saat mendapat penghargaan pas waktu suami saya sudah tidak ada,” ungkapnya.

Produksi belangkon Ririn ini, pemasarannya kini sudah mencapai ke Jakarta, Solo, Jogja dan area Surabaya. Dalam membuat belangkon ini, ada juga kendala yang kerap ia dihadapi. Salah satunya dalah sering telatnya bahan baku jarit.

“Kadang juga ada perias yang membawa jarit sendiri untuk dibuatkan karena ingin dengan bahan yang lebih bagus dan terkesan lebih mewah,” katanya.

Harga belangkon sendiri, kata Ririn, ditentutan dengan tingkat kesulitan dan harga bahan baku jarit. Mulai harga Rp 10 ribu untuk model Madura, model Jawa Timuran Rp 25 ribu, dan yang paling mahal model Pacul Gowang yakni Rp 50 ribu.(sid3)

Keterangan gambar : Aktivitas di tempat pengerajin belangkon milik Ririn di Desa Sawocangkring Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo. (atas) Ririn saat menunjukkan macam-macam belangkon hasik produksinya.(foto : andri santoso)

Related posts

Leave a Comment