Kenapa Kaum Muda Tak Lagi Berminat Jadi Pembatik?

Batik Indonesia diketahui telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Meskipun begitu, masih sedikit generasi muda yang mau meneruskan pekerjaan sebagai pembatik.

Pemerintah pun hingga kini terus berupaya mengembangkan industri batik secara berkelanjutan, dengan meregenerasi perajin batik. Pasalnya, sebagian besar pembatik di Indonesia telah berusia di atas 40 tahun.

“Minat anak muda yang mau menjadi perajin batik masih sangat terbatas. Untuk itu, regenerasi menjadi hal yang penting untuk menjaga keberlanjutan industri batik,” ujar Pengki, seorang pelatih pembatik di eks Kampung Dolly, Surabaya, Selasa (03/07).

Penyebab membatik belum menarik minat kaum muda antara lain, rendahnya harga jual batik tulis. Padahal proses pembuatan selembar batik tulis bisa memakan waktu berbulan-bulan. Itu masih ditambah dengan waktu tunggu sekitar enam bulan hingga kain terjual.

Menurut Pengky, pemerintah telah gencar melakukan sosialisasi dan memberikan edukasi keterampilan membatik kepada para generasi muda, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

“Industri batik memiliki peran penting sebagai penggerak perekonomian regional dan nasional, penyedia lapangan kerja, serta penyumbang devisa negara,” lanjutnya.

Perlu diketahui, batik merupakan warisan budaya asli Indonesia. UNESCO juga menetapkan batik Indonesia sebagai Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada tanggal 2 Oktober 2009 lalu.

Selain itu, pengakuan internasional tersebut telah membangkitkan semangat para perajin dan industri batik nasional untuk terus mengembangkan usahanya, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.

Oleh: Sholaita

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

NIM: 142022000034

Related posts

Leave a Comment