Keluarga Malu, Jadi Kendala Penyembuhan ODGJ

ADAKITANEWS, Tulungagung – Peran keluarga menjadi salah satu faktor yang menentukan penyembuhan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Sifat keluarga yang tertutup dan merasa malu mempunyai anggota keluarga ODGJ, merupakan salah satu kendala bagi Posyandu Kesehatan Jiwa di Desa Sobontoro Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung.

Posyandu Kesehatan Jiwa tersebut merupakan salah satu program kegiatan sosial dari desa. Tujuannya, adalah memulihkan jiwa bagi warga yang mengalami gangguan kejiwaan. “Program ini rutin kami lakukan setiap bulan. Selama program berlangsung sejak 2016, kendala yang kami hadapi adalah masalah keterbukaan pihak keluarga penderita ODGJ,” ungkap Kepala Desa Sobontoro, Sodik Affandi, Kamis (24/01).

Disampaikannya, ada yang malu memiliki anggota keluarga ODGJ. Hal ini justru akan menjadi penghambat proses penyembuhan. Seharusnya pihak keluarga memberi dukungan agar untuk mengukuti program yang dilaksanakan Posyandu Kesehatan Jiwa.

“Kita harus telaten memberi pemahaman terhadap pihak keluarga,” jelas Kades Sobontoro.

Bahkan saat pelaksanaan pemeriksaan di Posyandu, tak jarang pihak perangkat bersama Babinsa harus menjemput pemderita ODGJ dari rumah mereka. “Kalau waktu diadakan pemeriksaan ada yang tidak datang, kita jemput, kita rayu untuk datang,” tambahnya.

Sodik menyampaikan bahwa di wilayahnya ada 30 warga ODGJ. Namun tidak seluruhnya aktif mengikuti program yang dilaksanakan Posyandu. Program tersebut, selain pengobatan, juga dilakukan pembekalan ketrampilan seperti membuat kemucing, telor asin dan lainnya.

Disela-sela itu juga diadakan aneka permainan, senam dan perawatan diri, seperti merias wajah dan potong rambut. Sementara itu, Dr Nining Fajarwati, yang melakukan penanganan dan pemeriksaan terhadap warga yang mengidap gangguan jiwa, menjelaskan bahwa Posyandu Kesehatan Jiwa ini merupakan kerjasama Pemdes Sobontoro dengan Puskesmas Beji, Kecamatan Boyolangu.

Selama program berlangsung, pihaknya selalu memantau perkembangan penderita. “Pemantauan kita lakukan terus menerus. Terutama dalam mengkonsumsi obat. Mereka rutin atau tidak,” ujar dr Nining Fajarwati.

Kata Nining, untuk mempercepat proses penyembuhan, soal keteraturan minum obat tersebut sangat penting. Dalam hal ini, pihak keluarga dituntut untuk selalu mengingatkan pada penderita. “Setelah diberikan pengobatan, lalu kita tanya bagaimana reaksinya atau kondisinya,” jelas Nining.

Nining menambahkan, pihaknya juga memantau perkembangan kejiwaan penderita dari perubahan tingkah laku, termasuk soal kebersihan diri. Jika penderita sudah terbiasa menjaga kebersihan diri, berarti perkembangannya cukup bagus.

“Memang tidak ada jaminan kesembuhan 100 persen. Karena penderita ini sewaktu-waktu bisa kambuh. Misalkan mendengar perkataan yang menyinggung diri penderita, ini bisa mengganggu kejiwaannya. Karena itu pihak keluarga harus mwmbuat suasana hatinya nyaman dan senang,” pungkas Nining.(bac)

Keterangan gambar : Pengobatan dan Pemberian Ketrampilan di Posyandu Kesehatan Jiwa Desa Sobontoro.(foto : acta cahyono)

Related posts

Leave a Comment