10 Orang Dimintai Keterangan Terkait Meninggalnya Mahasiswi UN PGRI

ADAKITANEWS, Kediri – Pasca insiden meninggalnya salah satu mahasiswi Universitas Nusantara PGRI (UN PGRI) Kediri saat melaksanakan kegiatan arum jeram di kawasan Desa Mlancu Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri, Minggu (15/04) kemarin, saat ini pihak kepolisian masih melakukan pemeriksaan terhadap 10 orang saksi.

Kasat Reskrim Polres Kediri, AKP Hanif Fatih Wicaksono mengatakan, 10 orang saksi tersebut diperiksa untuk mendalami penyebab insiden yang mengakibatkan Mufidatul Anisa, 19, mahasiswi semester 2 jurusan Pendidikan Matematika UN PGRI tersebut meninggal dunia.

“Sampai saat ini kami masih melakukan pendalaman. Salah satunya kami sedang melakukan pemeriksaan terhadap 10 orang saksi, baik itu dari internal kampus maupun dari pihak luar kampus,” katanya, Senin (16/04).

Untuk sementara, lanjut AKP Hanif, penyebab insiden tersebut adalah karena perahu karet yang ditumpangi korban bersama rekan-rekannya menghantam tembok di salah satu jembatan di lokasi kejadian, hingga terguling.

“Dan korban terbawa arus hingga 1 kilometer. Begitu diselamatkan, (korban,red) sudah dalam kondisi tidak bernyawa,” tambahnya.

AKP Hanif mengatakan, saat kejadian kondisi arus sungai memang sangat deras karena di sisi atas lokasi sedang turun hujan. “Memang pada saat sore itu kondisi debit air meluap dikarenakan di atas itu terjadi hujan sehingga air yang mengalir cukup deras,” lanjutnya.

Dikonfirmasi lebih lanjut terkait ada atau tidaknya unsur kelalaian dalam peristiwa tersebut, AKP Hanif kembali menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan pemeriksaan dan pendalaman. “Masih pemeriksaan dan pendalaman,” tegasnya singkat.

Terpisah, Rektor UN PGRI Kediri, Dr Sulistiono melalui Kepala Biro Kemahasiswaan, Drs Sigit Widiatmoko, MPd, mengatakan, musibah meninggalnya salah satu mahasiswa UN PGRI saat kegiatan Mapala pada Minggu (15/04) tersebut bakal menjadi bahan evaluasi bagi pihak kampus.

Sigit mengatakan, pihak UN PGRI saat ini masih terus memberikan dukungan terkait penyelesaian kasus tersebut. Baik terkait pemeriksaan di kepolisian, maupun perawatan bagi korban lain.

“Dari pihak kampus terus memberikan support. Baik di kepolisian maupun di rumah sakit. Tetapi intinya kejadian ini murni musibah dan akan menjadi bahan evaluasi kami,” katanya saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Senin (16/04) sore.

Ditegaskan Sigit bahwa seluruh kegiatan mahasiswa termasuk Mapala sepenuhnya sudah dipantau oleh kampus. Ia pun mengatakan bahwa pasca musibah itu, tidak serta merta pihak kampus akan menutup kegiatan mahasiswa Mapala. Pasalnya diketahui. Mapala merupakan salah satu kegiatan yang bertujuan untuk membentuk perilaku dan karakter mahasiswa.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam kegiatan Mapala Pelita UN PGRI tersebut, terdapat 3 korban jiwa. Satu mahasiswi dinyatakan meninggal di lokasi yakni Mufidatul Anisa, 19, warga asal Desa Teken RT 1/RW 1 Desa Tekenglagahan Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk. Sedangkan dua mahasiswi lain yakni Jumrotun Munawaroh, asal Dusun Jagong Desa/Kecamatan Kras Kabupaten Kediri dan Khusnul Sholihah asal Trenggalek, terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit lantaran menderita luka serius.(kur)

Keterangan gambar: Warga saat menolong salah satu korban.(ist)

Related posts

Leave a Comment