Totok Sunyoto, Mantan Atlet Penyandang Cacat yang “Pantang Mengemis”

ADAKITANEWS, Blitar – Perjuangan untuk menyambung hidup tidaklah mudah. Apalagi bagi seseorang yang mengalami cacat fisik. Perjuangan itu semakin lengkap tatkala seseorang hidup sebatang kara. Seperti yang dialami Totok Sunyoto, warga Lingkungan Gondanglegi RT 2/RW 1 Kelurahan/Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar, yang harus terus hidup dan bekerja tanpa kedua tangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seorang diri. Itu setelah dia sudah tidak lagi memiliki sanak saudara alias hidup sebatang kara.

=========

Sebagai penyandang cacat dan hidup dengan segala keterbatasan, bukan menjadi penghalang bagi Totok. Kesibukan sehari-harinya adalah memberi pakan hewan ternak berupa ayam yang berada di halaman belakang rumahnya.

Meski ayam yang dia pelihara tidak banyak, dia tetap semangat memberi makan secara rutin. Maklum, ayam yang dia miliki itulah yang kini menjadi satu-satunya sandaran untuk bertahan hidup.

Lelaki yang saat ini berusia 45 tahun ini, mengaku tidak memiliki banyak pekerjaan yang bisa dia lakukan, kecuali beternak di rumah. “Meski hidup sebatang kara dan tanpa kedua tangan, pantang bagi saya untuk mengemis,” ungkap Totok, Sabtu (23/09).

Menurut Totok, selagi dirinya masih kuat secara fisik, ia lebih memilih bekerja atau berwirausaha dengan beternak, ketimbang mengemis memohon belas kasihan.

Dia menjelaskan, dirinya cacat sejak lahir, tanpa memiliki kedua tangan. Meski demikian, dirinya tetap berusaha tegar dan menjalani takdirnya. Hal itu ditunjukkan dengan kegigihannya saat menimba ilmu. “Meski kondisi saya cacat fisik, tapi saya bisa sekolah hingga tamat setingkat SMA,” ujarnya.

Saat beranjak SMP, lanjut Totok, dirinya pindah sekolah ke Solo Jawa Tengah lantaran mengikuti orang tuanya yang bekerja di sana. Dan di sekolah tersebut, sebenarnya dia memiliki prestasi yang luar biasa di bidang olah raga.

Totok mengatakan, ketika masih duduk di bangku SMA, dirinya sempat mewakili Indonesia menjadi atlet khusus penyandang cacat cabang olahraga lari dan lompat jauh. Waktu itu, dirinya sempat membawa harum nama Indonesia pada ajang paraolimpiade tingkat ASEAN (Dulu Asia Timur Jauh,red) pada Tahun 1984. Saat itu dia mampu meraih juara dua lompat jauh dan juara tiga lari. “Untuk cabor lompat jauh saya hanya kalah dengan atlet dari Australia,” cerita Totok.

Hanya saja, dirinya sedikit kecewa atas prestasi yang pernah dia ukir dalam sejarah. Pasalnya, selama menjadi atlet hingga dirinya menjadi mantan atlet seperti sekarang ini, tidak ada perhatian dari pemerintah, baik pusat maupun daerah. “Sama sekali saya tidak mendapatkan penghargaan atau bantuan atas jerih payah mengharumkan nama bangsa, sebagai atlet,” paparnya.

Karena tidak ada perhatian, selepas lulus dari SMA terpaksa dia bekerja membanting tulang untuk mencari nafkah. Bahkan, untuk menyambung hidup dia terpaksa bekerja yang seharusnya tidak dia lakukan.

Saat ia muda berbagai pekerjaan pernah dia lakukan. Diantaranya menjadi sales, penambang emas, cuci mobil dan kenek angkutan umum. “Semua pekerjaan yang saya lakukan, semuanya pekerjaan untuk orang normal. Tapi saya lakukan karena terpaksa,” ujar pria ramah ini.

Namun, karena bertambahnya usia dan berkurangnya tenaga serta fisik, membuat dirinya berhenti bekerja. Sebagai gantinya, kini dirinya mulai belajar beternak ayam.

Namun karena minimnya modal, ternak yang dia lakoni juga tidak berkembang. “Cukup sulit berkembang, karena ternak yang saya lakukan adalah ternak ayam kampung yang butuh modal besar karena untuk memanen cukup lama,” ucapnya.

Rencananya, dia akan beralih beternak burung jenis lovebird. Menurut dia, ternak lovebird cukup mudah dan tidak terlalu berat bagi seorang penyandang cacat, tapi untuk menuai hasil tidak membutuhkan waktu lama. Hanya saja, rencana tersebut masih menjadi angan-angan sebab dirinya masih belum memiliki modal untuk membeli lovebird dan membuat kandangnya.(fat)

Keterangan gambar: Totok Sunyoto menunjukkan kandang ayamnya.(ist)

Related posts

Leave a Comment