Sebelum Digunakan Perang 10 November, Bambu Runcing Ternyata Disepuh di Blitar

ADAKITANEWS, Blitar – Hari bersejarah bagi bangsa Indonesia salah satunya terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya. Saat itu pasukan Indonesia melawan pasukan sekutu menggunakan bambu runcing. Dalam pertempuran pertama setelah kemerdekaan Indonesia ini, pasukan Indonesia hanya memakai bambu runcing untuk mengusir penjajah dari tanah Indonesia. Dan hingga kini, tanggal 10 November diperingati sebagai hari pahlawan.

Perlawanan para pejuang Indonesia saat itu tentu sangat luar biasa. Pasalnya mereka hanya berbekal senjata bambu runcing untuk melawan pasukan musuh yang membawa senapan bahkan senjata api lainnya.

Namun siapa sangka, ternyata bambu runcing yang dibawa saat itu bukan bambu runcing biasa, karena sebelum dibawa perang ke Surabaya bambu runcing yang digunakan dalam pertempuran itu sebelumnya pernah diasmak atau disepuh di Desa Kalipucung Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar, oleh seorang tokoh agama bernama KH Manshur.

Salah satu putra KH Manshur, Kyai Hashim yang kini sudah berusia 78 tahun mengatakan, bambu runcing itu pertama kali dibawa dari Parakan, Temanggung, Jawa Tengah dari kyai Subchi. Setelah pulang dari Parakan, tiba-tiba di rumah ada pertanda sebuah benda putih yang turun di atas rumah atau orang Jawa sering menyebutnya Pulung. Baru setelah itu banyak santri dan anggota tentara keamanan rakyat (TKR) yang membawa bambu runcingnya sebelum perang ke Surabaya.

“Sebelumnya memang ada pertanda sejenis pulung turun kesini. Setelah itu banyak santri yang membawa bambu runcingnya kesini untuk diasmak,” katanya, Kamis (09/11).

Kyai Hashim menceritakan jika bambu runcing itu sebelumnya direndam di sebuah kolam. Kemudian pemilik bambu runcing digembleng dengan puasa putih selama 7 hari dan puasa pati geni, lalu dimandikan di sebuah kolam yang terletak di belakang rumah KH Manshur.

“Setelah itu baru mereka berangkat ke Surabaya membawa bambu runcing untuk melawan penjajah,” ungkap Kyai Hashim.

Lebih lanjut ia menceritakan, bahwa kala itu yang datang tidak hanya kalangan santri dan TKR saja. Bahkan Bung Tomo pernah datang ke kediaman KH Manshur untuk meminta doa. “Saat iti saya masih kecil, tapi saya ingat Bung Tomo juga datang kesini untuk meminta doa,” ujarnya.(fat)

Keterangan gambar: Kyai Hashim.(foto : fathan)

Related posts

Leave a Comment