BMKG Sawahan Nganjuk Gelar Sekolah Lapang Geofisika

ADAKITANEWS, Nganjuk – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sawahan, Kabupaten Nganjuk, menyelenggarakan Sekolah Lapang Geofisika (SLG) di Aula Hotel Istana, Jalan Raya Kedondong Nganjuk, Selasa (19/02).

SLG sengaja digelar di Kabupaten Nganjuk lantaran sebagai salah satu wilayah yang berpotensi terjadi gempa. Beberapa elemen dari masyarakat maupun pemerintahan sengaja diundang. Diantaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk, Desa Tanggap Bencana (Destana), dan berbagai unsur relawan kebencanaan Iainnya di Kabupaten Nganjuk.

Hadir dalam kegiatan tersebut, hadir Deputi Bidang Geofisika BMKG Pusat, Dr Ir Muhammad Sadly M. Eng, Anggota Komisi V DPR RI, Hengky Kurniadi SH.MH., dan Kepala BMKG Sawahan, M Chudori.

Dr Ir Muhammad Sadly mengatakan, kegiatan SLG dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan mitigasi dan penanganan bencana, khususnya gempa bumi sehingga diharapkan saat bencana terjadi korban jiwa dan kerusakan bisa diminimalisir.

“Karena yang paling banyak bergerak saat bencana terjadi ya relawan di lapangan itu, yang bersentuhan langsung dengan masyarakat,” katanya.

Materi yang diberikan pada SLG diantaranya, informasi dan penjelasan terkait gempa, hingga bagaimana proses menyelamatkan diri saat gempa terjadi. “Juga proses evakuasi dan mitigasi gempa, dan penangan recovery pasca gempa,” jelasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI, Hengky Kurniadi mengatakan, undang-undang kebencanaan sudah saatnya diperbarui. Mengingat, Indonesia berada dalam ring of fire yang sangat rawan bencana.

“Tanggap darurat harus cepat. BMKG, Basarnas, BNPB harus lebih efektif dan efisien dalam penanggulangan bencana. Karena itu, kita coba menyiapkan rancangan dan kajian ke sana,” ujar legislator dari Dapil 8 Jatim ini.

Terkait kelengkapan peralatan deteksi bencana, Hengky sebagai mitra BMKG di Senayan juga mendorong upaya pendataan ulang, peremajaan maupun pengadaan perangkat deteksi kegempaan dan tsunami yang belum dimiliki sampai saat ini. Sedangkan dari sisi masyarakat, Hengky memberi contoh budaya tanggap bencana yang sudah bagus di negara Chile.

Sistem tanggap darurat bencana di negara itu diakui Hengky sudah tertata dengan matang, berikut sarana pendukungnya. Bahkan, secara alami mereka sudah memiliki kultur budaya relawan yang disebut bomberos, yang selalu siap siaga menanggulangi bencana di berbagai bidang.

“Ini akan sangat bagus jika bisa diadopsi di negara kita, dan diterapkan oleh para relawan kebencanaan dan masyarakat,” tukasnya.(ng1)

Keterangan gambar: Kegiatan Sekolah Lapang Geofisika (SLG) di Aula Hotel Istana Nganjuk.(ist)

Related posts

Leave a Comment