Oknum Guru yang Cabuli 30 Siswinya Akui Khilaf dan Tak Sadar

ADAKITANEWS, Lamongan – Unit PPA Sat Reskrim Polres Lamongan terus melakukan pengembangan terhadap tersangka Slamet Priyanto, 46, oknum guru PNS di salah satu SD Negeri di Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan yang mencabuli 30 muriidnya.

Dalam pers rilis di halaman Mapolres Lamongan, Kasat Reskrim Polres Lamongan, AKP Wahyu Norman Hidayat pyn berharap agar korban lainnya segera melapor.

“Kami harap untuk korban yang lainnya segera melaporkannya ke Mapores Lamongan,” harapnya, Kamis (04/07) sore.

Sementara itu di hadapan polisi tersangka Slamet mengaku menyesali perbuatannya dan meminta maaf serta siap bertanggung jawab apa yang dilakukannya. “Saya khilaf, saat melakukan tidak sadar. Dan siap dihukum seberat-seberatnya,” ucap Slamet ketika ditanya Kasat Reskim Polres Lamongan.

Ia juga mengaku hanya melakukan pencabulan terhadap 3 muridnya saja. Selebihnya, tersangka mengatakan melakukan tindakan teguran kepada peserta didiknya. “Sebagai pembina kedisiplinan sekolah saya hanya mencubit siswi saya, ini saya lakukan untuk menindak murid yang melakukan pelanggaran di sekolah,” katanya.

Selain mengamankan tersangka Slamet, petugas juga menyita barang bukti surat pernyataan keterangan korban sebanyak 28 lembar, surat keterangan siswa yang menjadi korban pencabulan yang menyatakan pernah dicubit kemaluannya oleh tersangka.

Turut disita pula barang bukti lain yakni berupa pakaian korban diantaranya dua buah celana warna putih dan biru, dua buah celana pendek warna biru dan coklat, dan kaos dalam warna putih.

Atas perbuatan tersebut, Slamet terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara. “Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara, ditambah sepertiga tahun kurungan penjara atau denda Rp 5 miliar,” tandas Mantan Kasat Reskrim Polres Jombang itu.

Seperti diberitakan, aksi pencabulan terhadap puluhan korban itu dilakukan pelaku sejak Oktober 2018 lalu di ruang perpustakaan dan kelas. Bejatnya, pelaku juga diketahui pernah melakukan hal tak senonoh itu di rumah korbannya.

Modus pelaku diketahui dilakukan pada saat jam pelajaran. Korban panggil dan diajak ke kelas atau ruang perpustakaan. Modus lainnya, yakni dengan memanggil para korban untuk datang ke rumah pelaku dengan alasan mengambil CD dan Laptop untuk materi pembelajaran.

Para korban diancam akan diberi nilai jelek jika sampai menceritakan apa yang telah dilakukan tersangka. Kasus tersebut kemudian dilaporkan ke Polres Lamongan oleh orang tua korban, ketika mendengar cerita perbuatan gurunya itu.(prap)

Keterangan gambar: Tersangka saat digelandang ke ruang tahanan.(foto: suprapto)

Related posts

Leave a Comment