Studi Banding Dusun Bambu PT Gudang Garam (2)

*Hijaukan Kembali 15 Hektare Lahan

ADAKITANEWS, Bandung, Jawa Barat – Keasrian Ekowanawisata Dusun Bambu di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat yang kini bisa dinikmati masyarakat luas ternyata berawal dari perjuangan tak mudah. Lokasi seluas 15 hektare yang berada di ketinggian 1.500 mdpl tersebut, saat ini telah disulap menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Barat, yang menjanjikan berjuta manfaat. Bukan hanya mengembalikan kelestarian alam sekitar, namun juga meningkatkan perekonomian masyarakat.

Dusun Bambu lahir dari upaya penanaman 100 ribu bibit bambu pada tahun 2008 hingga 2011 silam, yang kemudian dilanjutkan dengan pembangunan berbagai infrastruktur. Baru pada tanggal 16 Januari 2014, Dusun Bambu mampu bermetamorfosa menjadi ekowanawisata pertama di Jawa Barat dengan misi 6-E. Yakni Edukasi, Ekonomi, Etnologi, Etika, Estetika dan Entertainment.

Kabag Humas PT Gudang Garam Tbk, Iwhan Tricahyono mengatakan, upaya mengembalikan kelestarian alam dan meningkatkan perekonomian daerah di Dusun Bambu tersebut sejalan dengan niat tulus PT Gudang Garam mengabdikan diri untuk masyarakat, bangsa, dan negara.

“Kita sengaja datang ke Dusun Bambu untuk mengetahui lebih dalam upaya-upaya yang sudah dilakukan hingga Dusun Bambu menjadi seperti sekarang ini. Nantinya hal tersebut juga akan kita lakukan di Kediri, untuk mengembalikan kelestarian alam sekaligus melahirkan destinasi wisata yang bisa dinikmati masyarakat luas,” ujarnya.

Langkah-langkah untuk memberikan kontribusi positif di tengah-tengah masyarakat, kata Iwhan, juga akan terus dilakukan PT Gudang Garam Tbk. Seperti yang terjadi di Lereng Gunung Wilis saat ini, pasca upaya penanaman ribuan bibit bambu bersama PT Gudang Garam beberapa tahun silam kini masyarakat memiliki mata pencaharian tambahan. Yakni selain bercocok tanam, sebagian masyarakat di lereng Gunung Wilis juga bekerja sebagai perajin bambu.

Mereka tersebar di Kecamatan Mojo, Tarokan, dan Banyakan Kabupaten Kediri dengan jumlah perajin sebanyak 31 orang. Terdiri atas Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo 5 perajin, Desa Ngadi Kecamatan Mojo 3 perajin, Desa Blimbing Kecamatan Tarokan 18 perajin, dan Desa Mayaran Kecamatan Banyakan 5 perajin.

Hingga saat ini, tambah Iwhan, para perajin tersebut masih menjalankan usaha secara konvensional. Produk mereka juga masih berupa tiang bangunan, anyaman bambu, tusuk sate, hingga peralatan-peralatan lain. Itu pun diproduksi dalam jumlah terbatas karena keterbatasan biaya serta pemasaran. Kondisi ini berbanding terbalik dengan ketersediaan bahan baku bambu yang cukup melimpah.

“Program CSR PT Gudang Garam Tbk berkomitmen mengembangkan industri kerajinan bambu di sana, sekaligus merawat kelestarian alam. Untuk itu dibutuhkan peran semua pihak, termasuk media massa dalam memberikan ruang informasi terhadap upaya ini. Melalui Media Gathering 2019, rekan wartawan diajak berkunjung ke Dusun Bambu dan Saung Angklung Udjo, untuk menyaksikan secara langsung pengelolaan ekowisata berbasis pelestarian lingkungan yang memberi nilai ekonomi masyarakat,” tandasnya.(bersambung)

Keterangan gambar: Para wartawan saat berkunjung ke Dusun Bambu.(tim humas PT GG)

Related posts

Leave a Comment