Krisis Air Bersih, BPBD Lamongan Siagakan 4 Unit Armada Tangki 24 Jam

ADAKITANEWS, Lamongan – Dampak musim kemarau hingga kini masih berlanjut di wilayah selatan Kabupaten Lamongan. Tak hanya itu, jumlah desa yang kekurangan air bersih akibat dampak kekeringan itu pun juga terus bertambah.

“Saat ini sudah ada enam desa yang krisis air bersih. Dan melihat kondisi saat ini dipastikan jumlah tersebut akan bertambah,” kata Kasi Tanggap Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamongan, Muslimin, Selasa (09/07) siang.

Muslimin memaparkan, desa-desa yang kekurangan air bersih tersebut diantaranya berada di wilayah Kecamatan Bluluk, Modo, Babat. Pihaknya sudah melakukan droping air bersih untuk keperluan sehari-hari, karena sumur – sumur milik warga sudah mengering.

“Kita juga telah melakukan droping air bersih di sejumlah tersebut mengingat warganya sangat kesulitan untuk mendapat air bersih, karena sumur-sumur warga sudah mengering,” ungkap Muslimin.

Dikatakannya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan sendiri sampai saat ini terus bersiaga selama 24 jam nonstop untuk melayani aduan masyarakat terkait krisis air bersih ini. BPBD juga sudah menyiapkan sebanyak 4 unit armada tangki untuk menyuplai air jika ada permintaan dari warga melalui Kades dan Camat.

“Jika bagi desa yang warganya kesulitan air bersih diharap segera melapor ke BPBD melalui pihak kecamatan,” terang Muslimin.

Seperti diketahui sebelumnya, saat memasuki musim kemarau, Pemkab Lamongan mewaspadai sebanyak 79 desa kekurangan air bersih. Ke 79 desa tersebut, semuanya berada di wilayah yang rawan kekeringan.

“Sebanyak 79 desa yang dinilai rawan krisis air bersih memasuki musim kemarau ini. Desa-desa tersebut berada Kecamatan Lamongan, Tikung, Sugio, Mantup, Kembangbahu, Sukodadi, Sarirejo, Modo, Bluluk, Sukorame, Kedungpring, Sambeng, Glagah, Babat, Brondong dan Karangbinangun,” kata Sekretaris Kabupaten Lamongan, Yuhronur Efendi.

Menurut Yuhronur, desa-desa yang rawan krisis air tersebut sebelumnya telah dilakukan survei lapangan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lamongan.

“BPDB tetap melakukan survei lapangan terutama di titik-titik embung yang ada di wilayah kekeringan itu,” ungkap Yuhronur.

Yuhronur memaparkan, berdasarkan daerah atau kawasan yang sudah berhasil diinventarisir pada setiap musim kemarau, kekeringan atau kritis air terjadi jika jarak pengambilan air diatas 3 kilometer.

“Kita sudah mengimbau kepada para Kades agar tanggap mengajukan permintaan pengiriman air bersih jika memang sudah dibutuhkan,” tutupnya.(prap)

Keterangan gambar: Droping air bersih.(ist)

Related posts

Leave a Comment