Ketum Baru PWI: IT Ancaman Besar bagi Jurnalistik

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) telah menggelar kongres ke-24 di The Sunan Hotel, Solo, 27-29 September 2018 lalu. Salah satu agenda dalam kongres tersebut yakni memilih Ketua Umum PWI periode 2018-2023.

Hasilnya, mantan Ketua Bidang Pembinaan Daerah PWI Pusat, Atal Sembiring Depari, terpilih dengan perolehan 38 suara, unggul dari saingannya, Hendry Ch Bangun yang sebelumnya menjabat sebagai Sekjen PWI Pusat dengan 35 suara.

Lalu, apa saja visi misi Bang Atal, sapaan akrab Atal S Depari pasca terpilih? Dan bagaimana ia menyoroti perkembangan pers di era digital seperti sekarang ini?

Berikut wawancara Tim Adakitanews, Rochmatullah Kurniawan dengan Ketua Umum PWI terpilih, Atal Sembiring Depari, Minggu (30/09).

 

Pertanyaan:
Seperti apa anda melihat perkembangan pers saat ini?

Jawaban:
Pers itu banyak, produknya maupun medianya. Banyak analis maupun pengamat komunikasi kalau melihat perkembangan teknologi, yakni IT seperti sekarang ini, ancamannya luar biasa buat media. Baik itu media cetak, televisi, dan lainnya.

Bukan tidak mungkin 10 atau 20 tahun lagi akan mati. Tapi saya selalu mengatakan bahwa profesi wartawan tidak akan pernah mati. Tapi dia (wartawan,red) tidak cukup hanya punya skill untuk membuat tulisan, foto, video, kemudian mengupload.

Wartawan sekarang ini harus beradaptasi dengan teknologi yang terus berjalan. Kalau wartawan tidak memahami hal itu, akan ketinggalan. Seperti visi-misi saya, “PWI Zaman Now”.

Pertanyaan:
Apa peran PWI menyikapi tantangan zaman tersebut?

Jawaban:
Sebagai organisasi wartawan, PWI memiliki peran salah satunya untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme anggotanya, agar menjadi wartawan yang bermartabat dan beradab.

Seperti dalam Pancasila. Produknya harus ada konsepsi persatuan. Kalau (berita,red) itu bisa memecah belah, itu bukan berita buat kita. Wartawan harus melihat sila ke-5, “Keadilan Sosial Bagi Rakyat Indonesia”. Kiblatnya memang rakyat. Untuk mengukur berita itu, newsvalue-nya, bermutu atau tidak, punya nilai atau tidak, harus bermanfaat untuk rakyat. Bukan untuk saya, atau untuk wartawannya.

Pertanyaan:
Bagaimana caranya untuk mewujudkan wartawan yang bermartabat dan beradab?

Jawaban:
Di PWI banyak sekali program-program pendidikan untuk mewujudkannya. Salah satunya adalah Sekolah Jurnalis Indonesia (SJI), dan sudah dilaksanakan di 14 provinsi. Selama ini mungkin sudah ada sekitar 1.800-an wartawan yang ikut SJI. Padahal, anggota PWI sekitar 14 ribu. Jadi masih banyak yang belum tersentuh.

SJI memang membutuhkan biaya yang besar. Lalu bagaimana mewujudkan hal itu? Caranya adalah dengan pendekatan digital. Bisa melalui pendidikan jarak jauh salah satunya lewat Skype.

Pertanyaan:
Apa pesan Anda kepada seluruh wartawan di Indonesia?

Jawaban:
Kepada seluruh teman-teman media, salah satu kunci untuk bisa survive adalah harus selalu ada inovasi. Media harus ada inovasi dalam rubrik atau konten berita.

Media harus bisa memilih rubrik atau konten yang bermutu, yang disebut berita. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Seperti yang diujikan dalam Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Ada kesadaran tentang hukum, Kode Etik Jurnalistik (KEJ), pengetahuan terhadap liputan, dan keterampilan.

Kita sudah dapat semua informasi yang bagus, tetapi tidak memiliki keterampilan jurnalistik. Jadi berita juga tidak bagus. Pesan saya, terus belajar. Tidak ada kata “hands-up” bagi seorang wartawan.

 

Keterangan gambar: Ketua Umum PWI terpilih, Atal Sembiring Depari.(ist)

Related posts

Leave a Comment