Jelang Hari Raya Nyepi, Umat Hindu di Blitar Pawai 56 Ogoh-ogoh

ADAKITANEWS, Blitar – Jelang perayaan Hari Raya Nyepi tahun 1941 Saka, ribuan umat Hindu Blitar Raya menggelar Tawur Kesanga atau pawai Ogoh-ogoh di Kecamatan Wlingi, Rabu (06/03) siang. Rute pawai ogoh-ogoh dimulai dari lapangan Kelurahan Wlingi, dan finish di pasar hewan Wlingi.

Berdasarkan data dari panitia, sebanyak 56 buah ogoh-ogoh diarak ribuan umat Hindu dari wilayah Kabupaten dan Kota Blitar. Kegiatan ini dihadiri langsung Pemerintah Kabupaten Blitar, yakni Wakil Bupati Blitar, Marhaenis Urip Widodo.

Dalam sambutannya, Marhaenis mengatakan, dari tahun ke tahun kegiatan pawai ogoh-ogoh di Wlingi selalu ada peningkatan. Untuk tahun ini ada 56 ogoh-ogoh yang diarak, padahal tahun lalu hanya 38 ogoh-ogoh.

“Ini merupakan kreasi yang kuar biasa dari umat hindu, bagaimana mereka bisa membuat berbagai bentuk ogoh-ogoh dengan kreatif,” kata Wabup.

Menurutnya, rangkaian kegiatan perayaan Hari Raya Nyepi sudah mulai dilakukan sejak beberapa hari yang lalu, yakni ritual Upacara Melasti di pantai Jolosutro Kecamatan Wates. Bahkan kegiatan itu dihadiri sekitar 15 ribu orang.

Sehingga, lanjut Marhaenis, perayaan jelang Hari Raya Nyepi sudah menarik perhatian masyarakat. Hal ini menambah destinasi wisata yang ada di Kabupaten Blitar. “Sekarang masyarakat, baik itu yang ada didalam daerah maupun luar daerah, atau bahkan dari elemen masyarakat lain sudah mulai menghitung kapan waktu perayaannya,” ujarnya.

Marhaenis berharap, pada tahun depan kegiatan bisa terus berkembang dan meningkat dengan baik. Karena pihaknya mendukung penuh kegiatan perayaan umat Hindu tersebut, baik dari segi anggaran maupun lainnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Tawur Kesanga, Yuliono mengatakan, tema dari Tawur Kesanga atau pawai ogoh-ogoh ini adalah ‘Dengan Perayaan Hari Raya Nyepi 2019, Kita Sukseskan Pemilu 2019’. Harapannya, umat Hindu aecara umum mendukung acara pemerintah sebagai bhakti atau dharma negara. Selain itu, pelaksanaan ritual-ritual ini merupakan dharma agama.

“Jadi dharma negara dan agama harus diseimbangkan. Termasuk upacara Melasti dan Tawur Kesanga, itu sebagai wujud umat Hindu cinta tanah air. Karena Melasti mensucikan air, dan Tawur Kesanga mensucikan tanah. Ini sebagai wujud bahwa masyarakat khususnya beraga Hindu untuk cinta tanah air yang diwujudkan setiap tahin baru Saka,” jlentrehnya.

Upacara ini, lanjut Yuliono, untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan tuhan, manusia dengan sesama manusia, dan manusia dengan alam lingkungan. Sehingga melalui ritual-ritual ini, Pemilu 2019 nanti bisa sukses dan lancar.(fat/wir)

Keterangan gambar: Suasana pawai ogoh-ogoh.(foto : fathan)

Related posts

Leave a Comment