Dugaan RS Nakal, Humas RSUD dr Soegiri: Segera Diusut Tuntas

ADAKITANEWS, Lamongan – Humas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soegiri Lamongan, Budi Wignyo Siswoyo buka suara terkait adanya dugaan Rumah Sakit (RS) nakal di beberapa daerah yang merawat pasien bukan virus corona tapi dinyatakan pasien positif covid-19.

”Alhamdulilah, kami dari pihak RSUD dr Soegiri Lamongan terus berupaya selalu profesional dalam memberikan pelayanan kepada pasien, baik itu pasien yang positif covid-19 maupun yang negatif atau sakit lainnya,” kata Budi ketika dikonfirmasi awak media, Senin (20/07).

Budi mengungkapkan, mengenai dengan adanya dugaan rumah sakit nakal yang mengaku merawat pasien positif covid-19 padahal tidak, serta demi bantuan Rp 45 juta hingga Rp 90 juta dari pemerintah, seperti yang disampaikan oleh Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah ke awak media, hendaknya segera diusut tuntas.

”Betul, itu perlu diusut tuntas dan diproses sesuai aturan yang berlaku, lebih bagus juga kalau sekalian merek rumah sakit tersebut disebutkan saja, agar masyarakat juga bisa mengetahui, biar tidak menjadi fitnah bagi rumah sakit yang lainnya,” tegasnya.

Budi menuturkan, fasilitas pelayanan kesehatan di RSUD dr Soegiri Lamongan tetap profesional dalam memberi pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, kata dia, masyarakat juga tetap harus mengikuti semua protokol kesehatan, seperti memakai masker, cuci tangan dengan sabun dan juga jaga jarak.

”Penanggulangan covid-19 saat ini adalah tugas kita bersama, mari kita bergotong-royong dengan selalu mematuhi protokol kesehatan, supaya pandemi ini bisa segera berlalu,” tandas Budi.

Seperti diketahui Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah mengadukan dugaan rumah sakit nakal yang merawat pasien virus corona covid-19 di sejumlah daerah ke Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto. Dalam rapat kerja, pada Rabu (15/07), Said Abdullah mengadukan kepada Terawan soal RS yang sengaja menyatakan pasien positif virus corona demi mendapat dana anggaran pemerintah.

“Terdapat kenakalan juga di RS, pasien bukan virus corona tapi dinyatakan positif covid-19. Keluarga pasti tidak terima, sudah dua pekan mau masuk pengadilan, akhirnya RS itu menyerah,” kata Said Abdullah.

Dalam penyelidikan lebih lanjut, kata Said, RS itu ternyata sengaja menyatakan pasien tersebut positif corona demi mendapatkan dana anggaran penanggulanan Covid-19 dari pemerintah. “Jadi, kalau pasien itu meninggal dinyatakan karena corona, dapat anggaran besar Rp 45 juta sampai Rp 90 juta. Di Pasuruan, Jambi, Ciamis, viral di mana-mana,” kata dia.

Karenanya, Said meminta Menkes Terawan turun ke daerah-daerah untuk mengetahui secara langsung persoalan-persoalan seputar penanganan virus corona di beragam rumah sakit. Terkait dana APBN untuk penanggulangan virus corona, Said meminta penyerapannya di Kemenkes bisa lebih meningkat.

“Soal dana anggaran itu persoalannya adalah penyerapan rendah. Dananya Rp 87,55 triliun, tapi sampai 8 Juli, penyerapannya baru 5,12 persen atau Rp 4,48 triliun,” kata.(prap)

Keterangan gambar: Humas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soegiri Lamongan, Budi Wignyo Siswoyo.(ist)

Related posts

Leave a Comment