Kenaikan Harga Bahan Makanan Dorong Inflasi, Walikota Imbau Masyarakat Jangan Berlebihan

ADAKITANEWS, Kota Kediri – Kenaikan harga komodita bahan makanan, mendorong naiknya inflasi di Kota Kediri. Pada November kali ini, tercatat inflasi di Kota Kediri mencapai 0,4 persen lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang hanya sebesar 0,16 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kediri, Djoko Raharto melalui Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi KPwBI Kediri, Nasrullah mengatakan, inflasi di Kota Kediri pada November 2018 ini utamanya didorong oleh kenaikan harga bahan makanan, khususnya komoditas daging ayam ras, bawang merah, dan beras.

“Dengan demikian, inflasi Kota Kediri secara kumulatif tercatat sebesar 1,67 persen (years to date/ytd), dan secara tahunan sebesar 2,11 persen (years on years/yoy),” kata Nasrullah saat menggelar pers rilis di gedung Bank Indonesia Kediri, Selasa (04/12).

Nasrullah menambahkan, dalam data yang tercatat, volatile foods atau Inflasi Komponen Bergejolak mengalami inflasi sebesar 1,41 persen dengan kontribusi 0,24 persen dan masih didorong oleh komoditas daging ayam ras, bawang merah, dan beras.

“Berdasarkan pantauan di lapangan kenaikan harga daging ayam ras disebabkan oleh berkurangnya populasi ayam pedaging di daerah sentra produksi akibat tingginya populasi ayam ras yang mati pada musim pancaroba. Sementara itu, kenaikan harga bawang merah di tengah musim panen disebabkan oleh masa jemur yang singkat pada musim penghujan, sehingga bawang merah lebih cepat membusuk,” jelasnya.

Sementara itu untuk inflasi inti, lanjut Nasrullah, tercatat sebesar 0,12 persen dengan kontribusi 0,08 persen terhadap inflasi periode laporan. Hal itu, didorong oleh kenaikan harga beberapa komoditas yakni nasi dengan lauk, air minum kemasan, dan bumbu masak. Sementara harga komoditas lain, masih relatif stabil.

Komponen administered prices atau Harga barang/jasa yang diatur oleh pemerintah juga mengalami inflasi sebesar 0,42 persen dengan kontribusi 0,08 persen terhadap inflasi periode laporan. Salah satunya didorong oleh kenaikan harga bensin dan rokok kretek.

“Kenaikan harga bensin disebabkan oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Series, Dex Series dan Biosolar Non-PSO per 10 Oktober 2018, menyusul kenaikan harga minyak dunia di pasar global. Sedangkan kenaikan harga rokok, adalah sebagai bentuk penyesuaian industri terhadap kenaikan tarif cukai pada 2018 sekaligus sebagai upaya untuk mempertahankan kinerja perusahaan,” tambahnya.

Bank Indonesia Kediri pun menegaskan bahwa prospek inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen) tahun 2018 masih terkendali pada sasaran inflasi nasional 3,5%±1 persen (years on years). “Koordinasi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi akan terus diperkuat terutama sebagai antisipasi meningkatnya harga komoditas menjelang akhir tahun,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar juga sempat memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak berlebih dalam melakukan kegiatan konsumsi.

Dalam pers rilis tersebut, selain Bank Indonesia dan Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar, juga hadir perwakilan dari Badan Pusat Statistik (BPS), Bulog Sub Divre V Kediri, Polres Kediri Kota, serta anggota Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) lain.(kur)

Keterangan gambar: Pers rilis terkait inflasi Kota Kediri di gedung Bank Indonesia Kediri.(foto: kurniawan)

Related posts

Leave a Comment